Minggu, 07 Desember 2008

Sinopsis Novel Bertemakan Lingkungan

Sinopsis

LAWAN MEREKA!

SAVE OUR FORREST

OLEH : LINTANG GHIFFARA

Mempublikasikan pentingnya bahaya kerusakan lingkungan sejak dini, memang tidak mudah. Sama seperti salah seorang tokoh di sini, yang gemar berbuat seperti itu kepada keluarganya, sampai ia tidak disenangi hanya karena hal tersebut. Namun keajaiban datang. Salah seorang tokoh lain, mendapat indera keenam dengan bisa membaca pikiran orang lain.

Ia dan yang lain pun menjadi sadar sendiri, betapa pentingnya menjaga kerusakan lingkungan tersebut, akibat dari keajaiban yang datang padanya.

Bab I : Sepupu Simelekete

Liburan kali ini, Aditya dan Muncip merencanakan akan berlibur di Tasikmalaya. Atau di rumah Nenek. Dibuatnya “forum” persetujuan, dan ada satu orang yang tidak setuju. Amel, adik dari Aditya. Gayanya yang selalu fancy, dan sikapnya yang gaul banget itu, membuatnya tidak suka berlibur atau sekedar berkumpul bersama keluarga.

Ancaman demi ancaman Aditya berikan untuknya. Dan akhirnya, Amel mau mengikuti liburan ini.

Bab II : Tante Nia yang Demen Fotografi

Persetujuan dari Om dan Tante Aditya dan Muncip sangat diperlukan. Awalnya Om dan Tante mereka mencoba untuk menolak. Namun, saat disebutkan hendak liburan ke mana mereka, Om dan Tante langsung setuju. Yang dikarenakan Tante mereka itu—Tante Nia—senang sekali dengan fotografi.

Bab III : Mereka Go Go

Dini hari, mereka berangkat ke Tasikmalaya. Saat sedang beristirahat, Tante Nia menerima telfon dari ibunya—atau neneknya Aditya dan Muncip, yang mengabarkan bahwa tantenya anak-anak—Namboru Lusi—yang bawel, cerewet, dan sangar itu, akan berlibur pula di Tasik!

Nenek bilang, jangan beritahu siapa-siapa dulu. Karena kalau Aditya dan Muncip apalagi Amel mengetahuinya, mereka bisa-bisa memutuskan untuk balik lagi ke Jakarta. Tante Nia hanya menurut.

Bab IV : Bah! Namboru Was Come?!

Kabar tentang Namboru Lusi yang juga ikut liburan bersama mereka, terbongkar sudah. Amel juga langsung mengetahui kabar tersebut. Ia menjadi gundah dan jengkel. Sampai-sampai ia harus menangis! Karena ada Aditya yang selalu berada di samping adik-adiknya, Amel bisa meredam kegundahan itu.

Namboru datang. Semua menyambutnya. Amel menguatkan dirinya untuk bisa bertahan dengan Namboru.

Bab V : Namboru Itu Sebenarnya Benar!

Sehari penuh Namboru bersama mereka, semuanya sangat menjengkelkan! Hal-hal kecil yang dapat membuat kerusakan pada lingkungan, selalu ia serukan!

Aditya dan Muncip bosan. Tapi ada yang beda dari Amel. Ia merasa, bahwa apa yang diutarakan oleh Namboru selama ini, ada benarnya.

Bab VI : Lebih Baik Ku Begini

Aditya dan Muncip benar-benar nggak tahan! Tapi Amel, ia jadi akur dengan Namboru! Amel setuju sekali dengan apa yang Namboru pikirkan soal kerusakan lingkungan! Amel yang dipikirkan Muncip akan tidak betah juga, dan langsung mencari jalan keluarnya, malah terbalik. Amel yang diharapkan pemikiran liciknya untuk bisa lepas dari sesuatu, pupus sudah dari pikiran Aditya dan Muncip.

Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di Musholla. Jadi marbot jadi marbot, deh! Asal nggak kedapetan celotehan Namboru!

Bab VII : Namboru Begini, Tante Nia Juga?

Tujuan Tante Nia datang ke Tasik adalah, bisa pergi ke gunung Galunggung, dan mengambil foto di sana, untuk diikutsertakan dalam perlombaan. Rencananya, beliau ingin pergi hari ini. Tapi dibatalkan oleh Namboru!

Dengan alasan yang rasional, Namboru bisa mengendalikan pikiran Tante Nia untuk pergi ke danau Panjalu. Semua hanya menurut.

Sampai di sana, tiba-tiba Aditya dan Muncip prihatin melihat ada seorang anak yang membuang sampah sembarangan. Selanjutnya, keajaiban itu pun datang! Aditya bisa membaca pikiran orang lain! Dan karena hal itu, ia bisa menjadi dua kali lebih iba tentang kerusakan lingkungan, dari isi pikiran orang-orang di sana tentang hal tersebut!

Bab VIII : Saatnya Beraksi!

Aditya bahagia! Dengan bisa membaca pikiran orang lain, ia jadi bisa membaca pikiran Namboru. Yang isinya, hari ini Namboru akan pergi ke Gunung Galunggung, membalas Tante Nia yang kemarin sudah menemaninya ke danau.

Sampai di sana, lagi-lagi Aditya dan Muncip merasa prihatin akan kerusakan lingkungan yang akhir-akhir ini sering terjadi. Ditambah dengan tahunya Aditya isi dari pikiran orang-orang di sana, yang menyayangkan adanya kerusakan lingkungan. Namun, itu tidak terlalu bermasalah. Yang penting membantu Tante Nia untuk mendapatkan foto yang baik.

Bab IX : Ada Yang Mencurigakan

Ada kabar, bahwa perkebunan lobak milik warga setempat rusak oleh tangan manusia! Pasti ada penjahat yang dendam atau gila karena telah sembarangan merusak lingkungan. Namboru tentu amat teramat tidak terima!

Dan beliau segera mencari ide gila, untuk bisa mendapatkan para penjahat tersebut, dibantu dengan Amel.

Bab X : Pertempuran Tahun 2000 di Tasik

Ide gila dilakukan Namboru, demi mendapatkan para penjahat itu. Namun, apa yang terjadi? Gagal.

Bab XI : Kata Tante Nia, Lawan Mereka!

Namboru nggak bakal nyerah untuk mendapatkan para penjahat gila itu! Keesokannya, beliau mulai mencoba lagi. Aditya dan Muncip yang selama misi ini dijalankan tidak terlihat semangat, lalu dinasihati oleh Tante Nia.

Kata Tante Nia, lawan mereka yang coba merusak lingkungan kita! Merusak bumi, yang akan membawa pada kehancuran!

Dengan semangat tinggi, dibarengi dengan otak cerdas, akhirnya, mereka berhasil menagkap para penjahat tersebut....

Begitulah penjabaran dari bab-bab dalam novel ini. ini fiksi remaja. Tidak terlalu serius pasti. Agar para pembaca—yang diutamakan remaja—bisa mencerna betapa pentingnya amanat yang terkandung dalam cerita ini. tokoh-tokoh dalam cerita pun adalah remaja sendiri. Dan dari awal sampai akhir, coba sebutkan nanti, bagian mana yang tidak terdapat lelucon?!

1 komentar:

catatan salwangga mengatakan...

ini novel ya, wah bagus juga gaya penulisannya.

salam,