Jumat, 09 Oktober 2009

PERINTIS


Pada tanggal 11, 12, dan 13 September 2009 kemarin, atau pada hari Jum’at, Sabtu dan Minggu, kami—siswa-siswi SMAN 25 Jakarta—mengadakan acara PEngkajian Ramadhan INtensif Tentang ISlam. Yang akrab disebut PERINTIS. Dan bertempat di Wisma Atlit Cilodong, Depok.

Peserta acara ini adalah siswa-siswi kelas X atau kelas 1 SMA. Dan anak-anak Rohis kelas 2 dan 3 juga alumninya sebagai panitia yang didampingi guru-guru. Saya pun termasuk dalam kepanitiaan. Panitia dibagi 2. Yang kelas 3, menjadi panitia, dan yang kelas 2 menjadi ketua kamar. Karena dari seratusan murid kelas 1, mereka akan dibagi menjadi 6 kamar/kelompok, yang tentunya dipisah antara ikhwan dan akhwat atau laki-laki dan perempuan.

Dan saya kebagian menjadi ketua kamar/kelompok 1 akhwat. Kelompok saya itu pun saya beri nama Ummu Kultsum—putri nabi Muhammad. Ada 17 akhwat yang saya pegang—dan biasa disebut sebagai anak. Namun dua dianataranya tidak bisa mengikuti acara ini. Alhasil, 15 orang akhwat yang menjadi tanggung jawab saya selama tiga hari.

Hari pertama atau saat baru sampai di tempat, kami melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Baru setelah itu kami menuju kamar kami masing2. Dan diberi kesempatan untuk membersihkan diri selama kurang lebih 45 menit. Setelah itu kami pun menuju aula untuk pembukaan sembari menunggu adzan Maghrib atau waktu berbuka puasa.

Hingga malam tiba, seluruh peserta—kelas 1—diberi waktu istirahat atau tidur selama kurang lebih 4 jam. Saya pikir, anak Rohis-nya tidak ikut tidur. Karena, saat anak kelas 1 disuruh tidur, kami—panitia—malah disuruh berkumpul untuk rapat dengan guru-guru. Tapi tidak lama. Hanya sebentar dan kami disuruh kembali ke kamar untuk ikut beristirahat.

Dua kamar menjadi satu. Hanya dipisahkan oleh kamar mandi. Dan kamar/kelompok 2 yang memegang adalah Erly. Kebetulan saya dekat dengan Erly. Jadilah Erly dan saya terus bersama pada malam itu. Tadinya kami tidak ingin tidur. Jadilah saya membantu Erly untuk menyuruh anak-anaknya tidur. Setelah itu, kami jadi curcol (curhat colongan). Dan selama curcol, kami tidur di lantai kamar saya, dan tepat di bawah kipas angin.

Tak lama, guru yang tidur di kamar saya, datang. Padahal, saya dan Erly sudah hampir tertidur! Eh, dibangunin sama guru saya itu. Kata beliau, takut masuk angin kalau tidur di lantai. Apalagi saya, kurus! Hhe. Karena di kamar saya sudah ada guru, Erly meminta saya untuk tidur di kamarnya. Ya sudah, saya turuti.

Dan kami tidur di kasur yang dikhususkan untuk satu orang, berdua. Karena tadi sudah terlanjur tidur, kami langsung melanjutkan tidur kembali. Sebelumnya, kami pun menyetel alarm di HP saya. And ternyata, kita ketiduran! Karena jam di HP saya ternyata ngaco! Lalu, saya pun tidak berasa getaran, saat salah seorang panitia miscalled ke HP saya. Walhasil, kami pun telat untuk menjalankan shalat malam. Erly ketakutan setengah mampus. Saya juga, sih. Anak-anak kelas 1 pun tidak tahu kalau mereka kala itu telat datang ke acara.

Hari ke dua dan ke tiga, mulai dipenuhi cobaan. Pertama saat sedang materi berlangsung, saya melihat anak saya wajahnya pucat dan memegang minyak kayu putih. Saya Tanya kenapa? Katanya pusing. Fiuh! Untung Cuma pusing. Dan langsung saja saya suruh untuk tiduran di kamar.

Lalu saat outbond hendak dimulai. Anak saya pingsan! Saya tidak tahu menahu kalau dia sakit. Dan dia juga tidak bilang. Dia hanya bilang ke temannya sesaat sebelum pingsan. Kalau perutnya keram. Dan temannya itu pun bilang ke saya. Saat saya hendak melapor ke panitia, ternyata dia langsung pingsan! Aduh… kalau mendem rasa sakit, ya bilang, toh!

Lalu sesudah outbond. Saya tidak tahu apa asalnya, tahu-tahu satu anak saya sudah bersama seorang panitia dan dia mengeluh kalau kuku kakinya patah! Hah! Saya panic sekaligus stress! Untung saya tidak disalahkan.

Hari demi hari terus terasa berat di Cilodong. Dari mulai anak-anak kami yang sakit, sampai harus mengingatkan mereka kalau tidak boleh tidur/tiduran saat acara berlangsung! Lalu, mengingatkan kalau tidak boleh memakai jeans atau lagging. Menyuruhnya cepat keluar saat acara hampir dimulai, dan menertibkannya saat mereka rebut. Belum lagi menyuruhnya untuk segera tidur lalu membangunkannya di dini hari!

Capek nih mulut rasanya! Udah mana lagi puasa! Dan saat para peserta dikasih waktu beristirahat, panitia malah disuruh rapat! Capek kan? pantas saja saat memejamkan mata sekali, langsung saya pergi ke alam mimpi! Pules!

Yah… walau capek, tapi senang. Dan pengalaman yang sangat berharga sekali untuk menjaga anak-anak orang selama tiga hari. Ah…


Selasa, 23 Juni 2009

Finalis IM3 Mobile Academy 2009

gue Bunga Ramona, siswi kelas X--yang sekarang Udah naek kelas XI--SMAN 25 Jakarta. hobi gue nulis. dan kerana bakat gue itu, gue bisa dipanggil ke acara ini. IM3 Mobile Academy 2009! dan gue kaget bgt waktu tgl 21 Juni kemaren, tiba-tiba dipanggil ke JAk Tv, karena ternyata gue udah berhasil masuk 40 besar IM3 Mobile Academy!
tapi sayang, waktu di Jak Tv gue diwawancara, gue gak lolos ke 16 besar! kecewa dan gak kecewa, sih... tapi, yah... buat penglaman lha! lagian juga yah, gue tuh super nervous bgt tahu pas mau diwawancara!!! gak tahu knp??

Rabu, 10 Juni 2009

Visit Kompas Gramedia

Visit Kompas Gramedia diadakan oleh Kompas Gramedia bekerjasama dengan Universitas Multimedia Nusantara (UMN), pada Sabtu, 30 Mei 2009. Sebenarnya, acara ini diselenggarakan setiap minggu, dan bertempat tetap di kantor baru Kompas Gramedia, di jalan Palmerah Barat. Kebetulan saja, SMA 25 mendapat kesempatan untuk mengikuti acara tersebut pada tanggal 30.

Tidak hanya SMA 25 yang hadir pada acara tanggal 30. Namun, masih ada dua sekolah lagi. yaitu SMA Tarakanita Gading Serpong, dan SMA Darma Putra. Dua hari sebelum acara dilaksanakan, saya dan dua orang teman saya, datang terlebih dahulu untuk merapatkan soal acara tersebut.

Dari ketiga sekolah di atas, memang diminta tiga siswa untuk membantu panitia dari Kompas Gramedia-nya sendiri. Padahal, awalnya saya tidak menjadi panitia. Berhubung seorang teman saya—yaitu seorang cowok—kabur begitu saja saat bel pulang dibunyikan, maka guru saya meminta saya untuk menggantikan si cowok tadi.

Satu sekolah mengirimkan perwakilan dari para murid sebanyak 40 orang peserta. Juga diminta tiga orang guru untuk mendampingi. Namun apa boleh buat, pada tanggal yang sama, SMA 25 juga sedang mengadakan acara pelepasan bagi siswa kelas tiga-nya. Mau tak mau, guru-guru harus ikut semua. Jadilah, saat kami—peserta acara Visit Kompas Gramedia—akan berangkat, seorang guru menasihati agar kami berhati-hati karena mereka tidak ada yang bisa mendampingi. Hiks,

Saat kami sampai di tempat acara, ternyata baru siswa SMA 25 saja yang datang. Ya sudah, akhirnya kami langsung mengisi daftar peserta, dan mulai memasuki sebuah aula di lantai 7 sebagai tempat inti dari acara ini. Tak lama setelah itu, siswa dari SMA Tarakanita pun datang. Karena SMA Darma Putra meminta waktu untuk ngaret disebabkan ada satu hal di sekolah mereka, akhirnya acara pembukaan pun dimulai.

Setelah acara pembukaan—dan siswa dari SMA Darma Putra datang, kami semua dipersilakan menuju ke toko buku Gramedia di lantai 1. Di sana ada acara Wisata Belanja. Di mana semua buku didiskon sebesar 30%! Setelah Wisata Belanja, barulah acara inti dimulai. Yaitu workshop!

Workshop pun dibagi menjadi empat tema. Yaitu, Advertising, Jurnalistik/Fotografi, Animasi, dan Broadcasting. Workshop kira-kira berlangsung selama satu jam setengah. Di mana, setelah workshop diadakan, per-tema workshop itu harus mengadakan lomba. Pastinya lomba berhadiah!

Setelah acara ini selesai, kami melanjutkan dengan ISOMA. Setelah itu, masih ada acara inti selanjutnya. Yaitu kunjungan ke percetakan Kompas Gramedia, dan kunjungan ke redaksi Koran Kompas. Saat acara ini berlangsung, seluruh peserta dibagi menjadi dua. Setengah ke percetakan terlebih dahulu, dan setengah lagi ke redaksi.

Setelah acara kunjungan selesai, barulah kami semua dihibur dengan banyak pembagian hadiah! Tak lupa, juga pengumuman para pemenang lomba saat workshop tadi. Wah… banyak sekali hadiah yang mereka beri kepada anak-anak SMA (baca: kami). Hadiah, ilmu, juga pengalaman yang telah Kompas Gramedia berikan kepada siswa-sisiwi SMA, pasti akan sangat berguna. Terimakasih Kompas Gramedia!

Selasa, 05 Mei 2009

Tokoh Kartun Favorite


Hey Arnold!
Phoebe

Phoebe is Helga's best - make that her ONLY - friend. Helga doesn't say much to her, but Phoebe still gets a lot out of the friendship.

Phoebe spent a good part of her life traveling through other countries. She's very sophisticated. In fact, she's probably the smartest kid in Arnold's world. But she's not really a leader - and that's a big reason why she hangs out with Helga.

Some say Phoebe has a crush on Gerald. Gerald seems to like Phoebe, too. It's tough to say what will happen between them, but it's nice to see Phoebe helping herself out for a change...

Rabu, 22 April 2009

Hotspot di DPR

hari ini (ceilah, kesannya udah kayak apaan gitu) dari pada menung2 di rumah gak jelas, akhirnya abangku yang ngantor di DPR, ngajak hotspot di kantornya! lumayan! daripada harus main di warnet dekat rumah yang bau rokok itu.
pertama, pas baru sampai naik motor dari kebon jeruk ke DPR (senayan), aku langsung diajak lihat2. pertama aku diajak ke Nusantara III. tempatnya para wartawan ngumpul! ingin rasanya aku berbaur dengan mereka! lumayan kan, pengalaman mereka bisa aku jadiin bahan buat nulis : )
lalu, aku diajak jalan lagi ke Nusantara II, terus Nusantara I, sampai akhirnya ke gedung DPR-nya, deh!
di DPR, kami gak lama2. abangku langsung mengajak ku ke perpus, buat nyari signal wifi. tapi nggak bisa! akhirnyaa, aku minta ke Nusantara III. ternyata eh, ternyata, di sana nggak ada signal! ya udah, terpaksa kami balik lagi ke DPR. hingga akhirnya aku browsing sepuasnya. dan tak lupa, menulis cerita ini...

Rabu, 08 April 2009

Surat buat Pak menteri

SURAT PENGANTAR
Jakarta, 4 April 2009

Kepada YTH
Bpk Dr. Bambang Sudibyo, MBA
Di tempat

Assalamualaikum wr. wb,

Sebelumnya, perkenalkan nama saya Bunga Ramona. Saya seorang siswi SMAN 25 Jakarta. Selain itu, saya juga aktif si salah satu organisasi kepenulisan, yang bernama Forum Lingkar Pena (FLP) Jakarta.
Saya bermaksud mengirimkan karya saya berupa novel ke Bapak. Novel saya berjudul LAWAN MEREKA! Bertemakan kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang akhir-akhir ini kian diatasi oleh segelintir orang. Termasuk saya. Novel ini adalah bentuk pengabdian saya sebagai masyarakat yang peduli akan keadaan yang tengah terjadi.
Telah saya bawa novel ini ke beberapa penerbit. Namun, seperti tak ada yang peduli dengan tema yang dibawakan novel ini. Padahal, walau novel ini bertema kerusakan lingkungan, novel ini telah saya kemas se-kreatif mungkin agar menarik untuk dibaca. Dan saya pun sangat berharap Bapak menteri yang terhormat mau membacanya. Saya yakin kalau Bapak juga ikut peduli dengan kerusakan lingkungan tersebut.
Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Tak ada yang lain yang saya harapkan dari Bapak, kecuali mau membaca novel saya ini. RESPON positive pun sangat saya nanti dari Bapak. Begitu juga dengan kritikan-kritikan yang membangun.
Kurang lebihnya, saya mohon maaf bila waktu Bapak yang sangat berharga untuk mengurus Negeri ini, tersita hanya untuk membaca novel saya. Namun saya percaya dengan Bapak. Bahwa Bapak tidak akan menyia-nyiakan karya anak bangsa sendiri.
Sekali lagi, kurang lebihnya saya mohon maaf. Dan saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, karena Bapak mau meluangkan waktu untuk membaca surat pengantar ini.

Wassalamualaikum wr. wb

Hormat saya,


(Bunga Ramona)

karya temanku

Elok Oktavianingrum :

Bunga kau tampak indah karena engkau selalu memberikan keindahan yg suci nan tulus. Warnamu bagaikan matahari yg menyinari bumi ini.

Bunga janganlah kau layu, karena keindahanmu sangat berarti bagi bunga dan pohon-pohon yg selalu menumpuhi keindahan yg berarti olehmu.

Bunga, kau jadilah yg terhebat yg kau punya, karena warnamu selalu menyejuki keindahan taman, daunmu selalu mempunyai arti yg tersembunyi, putikmu yg selau mempunyai manfaat bagi makhluk hidup yg membutuhkanmu. Bunga, kau hebat aku bangga olehmu.

Minggu, 01 Maret 2009

Text Pidato (jgn jadikan ini sbg bahan contekan yah!?)

Assalamulaikum wr.wb

Kepada yang terhormat, Kepala SMAN 25 Jakarta, guru-guru dan karyawan, serta teman-teman para pemuda penerus bangsa yang saya sayangi.

Puji syukur selalu kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang tak henti-hentinya memberikan nikmat kepada kita semua. Karena nikmat sehat dari-Nya lah, kita semua bisa berkumpul bersama di sekolah yang kita cintai ini. Dan, Bu Kepala sekolah yang terhormat, guru-guru dan karyawan, serta teman-teman, perkenankanlah di hati kalian, untuk menggunakan nikmat sehat tadi, dengan mendengarkan pidato dari saya berikut. Yang mana, mudah-mudahan pidato ini bisa banyak manfaatnya bagi kita semua.

Pada hari yang cerah ini, saya akan berbicara mengenai kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar. Apalagi, tentang sampah-sampah yang sering berserakan di sekitar kita. Dan saya amat bangga menjadi siswi SMAN 25, karena sekolah ini bisa menjadi teladan bagi sekolah-sekolah lainnya, dalam hal kebersihan. Namun teman-teman, alangkah baiknya bila sampah-sampah itu tak hanya dibuang ke tempatnya, dipisahkan antar organik dan anorganik, dan terakhir dibuang ke TPA. Yang akhirnya, banyak sekali diberitakan TPA yang ada juga sering bermasalah dengan masyarakat. Saya menginginkan, teman-teman bisa seperti masyarakat di salah satu dusun.

Dusun Sukunan, yang berada 4 km dari tugu Yogyakarta. Menurut sebuah artikel yang ditampilkan salah satu majalah remaja, saya membaca bahwa dusun tersebut amat sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ini terbukti, karena disebutkan tidak ada sampah berserakan di sudut-sudut jalan. Kalaupun ada, seseorang langsung memungutnya dan memasukkannya ke dalam tong sampah.

Tong sampahnya pun bukan sembarang tong sampah. Selain peduli lingkungan, warga dusun Sukunan juga kreativ! Tong sampah yang dimaksud adalah tong sampah hasil perlombaan melukis tong sampah antar remaja dan anak-anak yang diadakan warga setempat! Gambarnya pun sesuai dengan klasifikasi jenis sampah masing-masing! Hebat bukan?

Namun, saya percaya kalau di SMAN 25 ini, memungut sampah adalah hal biasa yang sering dilakukan sebelum memulai belajar. Yang akan saya singgung dari warga dusun kepada teman-teman, guru serta karyawan seklian adalah, bagaimana cara mengelola sampah-sampah tersebut, agar ujung-ujungnya tak menjadi masalah juga?

Di dusun Sukunan, warga biasa memanfaatkan plastik bekas bungkus minyak goreng atau minuman, menjadi tas dan dompet yang nantinya dijual seharga Rp. 5.000,00 - Rp. 80.000,00. Mungkin di berita-berita yang ditayangkan di TV, teman-teman sudah pernah ada yang mendengarnya. Namun ada contoh lain. Adalah pembuatan batako dengan bahan dasar campuran sterofoam untuk membuat taman di sekitar kampung.

Tidak hanya itu, di dusun ini juga berdiri sebuah sanggar. Yang bernamaa Sabilla (Sanggar Belajar Ilmu Lingkungan Alam). Ternyata, di dusun Sukunan pendidikan tentang lingkungan sudah diajarkan sejak mereka kecil! Hebat bukan?

Begitulah Bu Kepala sekolah, guru-guru dan karyawan, serta teman-teman. Kalau saja kita bisa peduli dengan lingkungan sekitar, pasti pemandangan yang dihasilkan akan indah adanya. Contohnya bila kita rajin membuang sampah pada tempatnya. Sampah-sampah yang kotor dan bau, pasti tidak akan menjadi pemandangan sehari-hari kita.

Namun, tidak hanya itu. Kekreativan pun menjadi modal selanjutnya. Apabila kita tidak dapat berpikir kreativ, sampah-sampah tadi bisa tidak menjadi bermanfaat, dan malah kembali menjadi masalah masyarakat. Kalau kita bisa mengelolanya sedikit saja, pasti sampah-sampah tadi bisa bermanfaat bagi orang lain, maupun diri sendiri.

Begitulah Bu Kepala sekolah, guru-guru dan karyawan, serta teman-teman. Hal baik yang dilakukan orang lain, tidak ada salahnya untuk kita tiru. Namun, kalau kenyataan hanya tekad saja, pasti tidak akan berhasil. Harus dilaksanakan juga dong, akhirnya!

Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Mudah-mudahan, informasi yang pernah saya dapat sebelumnya, sekarang bisa teman-teman dapatkan pula, dan bisa diambil hikmahnya. Sekali lagi, semoga bisa bermanfaat. Kurang lebihnya saya mohon maaf,

Wassalamualaikum wr.wb

lirik lagu

Stop And Stare

oleh: One Republic

This town is colder now, I think it’s sick of us
It’s time to make our move, I’m shakin off the rust
I’ve got my heart set on anywhere but here
I’m staring down myself, counting up the years
Steady hands, just take the wheel…
And every glance is killing me
Time to make one last appeal… for the life I lead

Stop and stare
I think I’m moving but I go nowhere
Yeah I know that everyone gets scared
But I’ve become what I can’t be, oh
Stop and stare
You start to wonder why you’re ‘here’ not there
And you’d give anything to get what’s fair
But fair ain’t what you really need
Oh, can u see what I see

They’re tryin to come back, all my senses push
Un-tie the weight bags, I never thought I could…
Steady feet, don’t fail me now
Gonna run till you can’t walk
But something pulls my focus out
And I’m standing down…

Stop and stare
I think I’m moving but I go nowhere
Yeah I know that everyone gets scared
But I’ve become what I can’t be, oh
Stop and stare
You start to wonder why you’re here not there
And you’d give anything to get what’s fair
But fair ain’t what you really need
Oh, you don’t need

What u need, what u need…

Stop and stare
I think I’m moving but I go nowhere
Yeah I know that everyone gets scared
But I’ve become what I can’t be
Oh, do u see what I see…

Kamis, 01 Januari 2009

Bab 3-4 LM. Gokilz!

BAB III : MEREKA Go Go


Dini hari, mobil Xenia milik Om Iik sudah siap meluncur ke Tasikmalaya. Begitu juga dengan orang-orangnya. Seluruh penghuni rumah—kecuali Bik Yuyu dan Mang Asep—ikut serta dalam tour yang bertemakan, Jalin Silaturahim, Nikmati Suasana Outdoor yang Alami.
Semua sudah siap dengan jaketnya masing-masing. Karena dini hari, pastilah udara di luar sangat dingin. Belum lagi ditambah udara dari AC mobil. Amel fancy banget! Udah kayak mau window shopping aja! Pakai cardigan warna pink tua, plus HP Nokia terbaru dengan warna senada.
Setelah Aditya dan Muncip berhasil mengangkat semua barang masuk ke dalam mobil, barulah orang-orang dari para pemilik barang tersebut memasuki mobil.
Acara dadah-dadahan dengan Bik Yuyu dan Mang Asep, usai sudah. Kini, tinggallah mereka yang akan menggantungkan perjalanannya pada mobil Xenia yang dikendarai Om Iik.

***

Sampai di tol Cipularang.
Yank, ak lg d mobil nich! Kel Q, ngajak liburan brg. Ga sru amat kn, yank? Begitu isi SMS yang dikirim Amel kepada sang pacar. Kalau Aditya sampai tahu, bisa diturunkannya Amel dari mobil!
Nggak lama kemudian, datang SMS balasan. Ya ampun yank, koQ bs? Ya ud, biar ga bt, aQ temenin km lwt sms trus, yach?
Tx yach, yank. Km mank p’ngrtian bgt d sm aQ! Ga kyk abank Q! balas Amel lagi.
Owh. . si Adith, y? emank tuch orank. Ya ud, yank, aQ ngantuk nich, pngn bo2 lg. Miss U! Dari cara bicaranya, bisa dipastikan sang pacar adalah teman seangkatan Aditya!
Miss U too, Q syg kmuh! Begitu isi SMS terakhir.
“SMS-an.... terus!” sindir Aditya.
“Walau begitu, gue tetep nggak ngelanggar aturan, kan?” ujar Amel. Mau bagaimana lagi? Ucapan Amel barusan, memang yang paling benar! Jangan pura-pura lupa deh tuh, si Adit!
Tasikmalaya memang nggak bakal ketemu kalau dicari batang hidungnya. Tapi kalau dicari areanya, pasti ketemu! Namun, masih amat teramat jauh sekali dari tempat mereka berada sekarang!
“Dit, Riana bangun nih! Ajak ngomong deh!” ujar Tante Nia yang duduk di sebelah kursi kemudi, sambil memangku Riana.
“Santai Tante! Ada Muncip!” sambar Muncip PD dahsyat.
“Apaan sih, lu? Orang yang disuruh gue!” sinis Aditya.
“Eits, Dit, jangan suka emosian gitu, Cuma gara-gara dititipin dua orang adek sama bonyok lu! Kan, masih ada gue?” narsis Muncip lagi. “Riana mau apa?” ujar Muncip.
“Mau itu!” jawab Riana dengan polosnya, sambil menunjuk sebotol teh manis, yang terletak di kantong belakang jok mobil.
“Ow, ini, ya? Ya udah, minumnya sama Tante ya, anak pintar?” rayu Muncip sambil memberikan botol tadi.
Bukannya diminum sama Riana setelah tutup botolnya dibuka Tante Nia, yang ada, malah Riana langsung menyambar minyak kayu putih yang sedari tadi ada di tangan tantenya, dan menumpahkannya ke dalam teh manis! Dan yang terjadi?
Tante Nia malah membiarkannya, Aditya dan Amel sepertinya melihat, dan Muncip, ia tidak melihatnya sama sekali, karena terlalu sibuk dengan i-pod-nya!
“Kakak, ini buat Kakak!” pinta Riana kepada Muncip, sambil memberikan botol tersebut. goblok benner si Muncip! Makanya, jadi orang jangan sok baek! Begitu isi hati Aditya.
“Makasih, Riana! Kakak minum, ya?” ujar Muncip. Ke tiga orang yang telah mengetahui bahwa isi botol tersebut bukan lagi air teh manis yang murni, hanya diam saja dan tidak mencegah. Yang ada, mereka malah cekikikkan sendiri.
Dan.... satu... dua... ti... ga... huek! Tawa ke tiga orang tadi langsung meledak, saat Muncip baru mengetahui apa yang ia minum, dan menyemburkannya karena rasanya tidak enak.
“Kak Muncip... Kak Muncip... kalau belum pernah ngerasain segernya minum tebu pappermint, sekarang rasain dulu tuh, nggak enaknya teh manis pappermint!” ledek Amel.
“Makanya, Cip, jadi orang jangan sok baek dan sok perhatian! Udah gue bilang, ngurusin dua orang Adek tuh, nggak gampang!” ujar Aditya.
“Haah!” raung Muncip. Riana sang pelaku, malah tersenyum polos. Sesaat kemudian, Om Iik yang baru diceritakan kronologis kejadiannya oleh Tante Nia, langsung menyruh Riana untuk meminta maaf.
“Kakak, maafin aku, ya?” pinta Riana.
“Iya, sama-sama adikku yang manis....” ujar Muncip, dengan nada gregetan.

***

Dengan alasan Tante Nia yang sudah pegal memangku Riana, Amel yang kebelet pipis, dan Muncip yang ingin kumur-kumur, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di pombensin terdekat.
Mobil mereka masuk ke jalur peristirahatan di tol, dan masuk ke dalam pombensin yang dituju. Sepi, hanya ada beberapa mobil yang juga sama-sama singgah di pombensin tersebut. Awalnya mobil masuk melalui tempat peristirahatan yang mungkin dibangun oleh warga setempat—luas, hanya berisi beberapa pedagang makanan kecil, dan beberapa stand perusahaan otomotif yang berpromosi dengan cara bersedia untuk menservis onderdil kendaraan para pengendara yang sengaja lewat untuk beristirahat—yang terletak persis di sebelah pombensin, sehingga susah dibedakan yang mana yang pombensin asli, dan yang mana yang pombensin jadi-jadian.
Dibantu dengan Aditya, akhirnya Om Iik berhasil membawa mobilnya keluar dari pombensin jadi-jadian itu, dan terus ke pombensin yang asli. Setelah mendapat lahan parkir di pombensin yang asli untuk mobil mereka—tentunya mereka juga memilih yang letaknya strategis, semua penghuni mobil yang mungkin “dudukannya” sudah mulai panas, sekarang bisa menghirup udara kebebasan.
“Aduh... toilet...” keluh Amel, setelah berhasil keluar dari mobil.
“Aduilah, Musholla di mana, ya? Gue pengen kumur-kumur di krannya, nih!” keluh Muncip, setelah berhasil keluar dari mobil.
“Aduh, Mas, tolong gantian jagain si Riana dulu, ya?” keluh Tante Nia, setelah berhasil keluar dari mobil. Ya ampun! Tiga keluhan, dan satu tempat.
“Ayo Mel, ke toilet sama Tante,” ajak Tante Nia.
“Dit, temenin gue cari Musholla, yuk!” pinta Muncip.
“Nggak ah, lu ke toilet aja, kumur-kumur di situ. Emang nggak bisa?” jawab Aditya asal. Enak aja Muncip, orang lagi enak-enak nikmatin udara Cipularang di dini hari, malah disuruh anterin kumur-kumur!
“Ya elah Dit, toilet sekecil itu, mana ada wastafelnya, sih?” bela Muncip.
“Ya udah, kalo nggak ada, lu sabar aja menunggu sampe kita semua berniat untuk shalat subuh!” jelas Aditya. Muncip hanya bisa kesal.
Baru dua langkah terlihat Tante Nia dan Amel keluar dari toilet, ringtone HP Tante Nia langsung berbunyi. Mereka yang masih asyik “nongkrong”, membiarkan Tante Nia mencari tempat yang enak untuk mengangkat telfon.

***

Tertera tulisan, ‘Rumah di Tasik’ memanggil, di layar HP Tante Nia. itu artinya, ibunya—atau nenek dari Aditya dan Muncip—menelfon.
“Assalamualaikum, Ni. Udah sampai mana kamu?” sapa orang di sebrang.
“Waalaikumsalam, Bu. Nia sama yang lain lagi istirahat di Cipularang. Ada apa, Bu?”
“Ibu Cuma mau kasih tahu. Katanya, kakak iparmu si Lusi, juga mau datang ke Tasik.”
“Terus apa masalahnya? Malah bagus kan, anak-anak jadi bisa ketemu Namboru-nya?”
“Kamu kan tahu, Lusi paling nggak disukai sama anak-anak!”
“Iya juga ya, Bu?”
“Makanya, kamu jangan bilang dulu ke anak-anak, ya? Nanti, mereka malah nggak jadi mau ke sini,”
“Siip, lha, Bu!” begitu kalimat terakhir yang terucap, sebelum mengucapkan salam terakhir.
Fiuh! Kasihan Aditya sama Muncip. Liburan mereka yang sebelumnya diramalkan bakal indah, malah.... hi... hi... apa jadinya ya, kalau mereka—termasuk Amel—sampai menghadapi yang namanya Namboru Lusi?
Adzan subuh berkumandang. Tante Nia langsung menghampiri mereka semua, untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dan.... keinginan Muncip untuk kumur-kumur pun, akhirnya tinggal selangkah lagi! He... he...




BAB IV : BAH! NAMBORU WAS COME!?


“Nenek... I miss U...” ucap Muncip, saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Nenek.
“Waalaikumsalam,” jawab Nenek.
“Assalamulaikum, Nek,” ujar Aditya, membetulkan.
“Waalaikumsalam, semua cucu Nenek!” balas Nenek. Bahagianya, bisa bersatu dengan keluarga tercinta, di saat liburan seperti ini. Amel terlihat haru, saat melihat seluruh keluarganya berseri gembira, dan saat Nenek memeluknya.
“Aduh... Amel udah gadis!” puji Nenek.
“Makasih, Nek,” balas Amel.
“Si cantik pasti capek! Istirahat dulu deh, semuanya,” pinta Nenek, sambil menyolek dagu Amel.
Rumah yang terletak di salah satu desa di kabupaten Ciamis itu, rata-rata sama seperti rumah di perkampungan Jakarta. Kecil-kecil namun berdinding tembok dan bergaya modern. Hanya suasananya saja yang berbeda. Kampung mereka terletak di kaki gunung. Di kampung tersebut juga rata-rata penduduknya memiliki kolam ikan dan beberapa petak sawah, dalam satu lahan!
Nah, di rumah Nenek ini hanya memiliki satu ruang tamu, tiga kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruang makan. Itu sih baru bagian rumahnya saja! belum bagian tanahnya! Kalau dilihat sampai ke belakang rumah, di sana ada dua kolam ikan, rumah kecil bagian dari rumah di depannya sebagai tempat tinggal dua orang pembantu Nenek, satu kamar mandi terbuka—atau kamar mandi yang ndeso banget gitu lha, tahu kan?—lalu dibawah, ada perkebunan dan saung—atau kalau orang Betawi bilang itu bale-bale. Luas dan ndeso, kan?
Dan kamar yang biasa di tempati oleh Tante Nia adalah kamar yang di samping kamar Nenek. Atau yang dekat kamar mandi. Sedangkan satu kamar lagi—yang dekat ruang tamu, bisa ditempati oleh siapa saja. dan kalau kapasitas kamar sudah tak lagi mencukupi, keluarga besar mereka biasanya harus rela meronda di luar kamar!

***

“Dit, lu tahu nggak?” tanya Muncip.
“Ya enggaklah, orang belum lu kasih tahu,” jawab Aditya.
“Makanya, sekarang gue kasih tahu,”
“Apaan?”
“TAPI, LU SIAP-SIAP BUAT JANTUNGAN, YE? NAMBORU LUSI, LU TAHU? YANG ORANG BATAK TULEN, BAWEL, CEREWET, SANGAR, BAKAL DATENG KE SINI!!!” histeris Muncip.
“WHAT HAPPEN?” balik Aditya, juga dengan histeris.
“KATANYA, DIA MAU DATENG KE SINI, SEN-DI-RI-AN! CUMA PENGEN KETEMU SAMA KELUARGA BESAR SUAMINYA, YANG DIA TAHU KALAU KITA SEMUA LAGI KUMPUL DI SINI! BESOK!!!” histeris Muncip kemudian, dengan lebih dahsyat!
“OMG! Jangan sampe si Amel tahu duluan, deh,” ujar Aditya.
Namun apadaya, mereka yang baru sampai pada jam tujuh pagi, dan sedang melaksanakan sarapan di pinggir kolam, tidak ada yang tahu kalau selama perbincangan tadi, Amel ada tepat di belakang mereka! Yang memisahkan hanyalah tembok antar ruang Tv dan kolam.

***

Kalau di puisi Aku, tertulis baris, Kalau sampai waktuku, ku mau tak seorang ‘kan merayu. Tapi kalau kalimat yang diucapkan Amel, akan terdengar serupa namun tak sama,
“Sampai kapan pun, gue nggak butuh rayuan dari lu!” ujarnya, sambil duduk di pinggir kolam, memegang HP Nokia-nya, mengenakan jaket abu-abu dan jeans tiga perempat. Satu lagi, sambil menatap sedih, dan mengeluarkan air mata.
“Gue nggak coba nge-rayu lu, buat ngikutin semua apa kata gue! gue Cuma pingin ngeredam sedih lu! Gue tahu liburan sama keluarga tuh nggak asyik menurut lu. Tapi please, coba buat sekali ini aja,” jelas Aditya.
“Iya, tapi liburan bareng anggota keluarga yang paling NGGAK BANGET!” bantah Amel.
“Namboru tuh emang nggak banget. Gue tahu lu pasti nggak bakal suka sama dia!” ujar Aditya berpendapat, yang langsung tahu duduk permasalahan Amel kali ini.
“Tapi gue punya alasan kenapa gue bisa nggak seneng banget sama dia. Terakhir gue ketemu dia itu, gue sampe nangis secara diem-diem, gara-gara dipojokin abis-abisan tentang satu hal sama dia!” ingat Amel.
“Gue tahu, gue ngerti, gue paham. Makanya, di percakapan gue sama Muncip tadi, gue bilang gue nggak mau kalau lu sampe tahu duluan. Karena gue nggak mau lu jadi shock. Gue mau lu nerima pelan-pelan, tapi lu nggak mau nerima cara gue itu, yang merupakan tanda kasih sayang gue ke elu, sebagai abang lu!” jelas Aditya. Percakapan serius, namun tidak dibarengi emosi.
Aditya menyingkir. Masih di pinggir kolam, namun ia pindah ke lain sisi yang berbeda dengan tempat Amel berada. Tiba-tiba Amel memainkan HP-nya. Praduga Aditya, Amel bakal mengirim SMS ke sang pacar. Ternyata tidak.
Bintang malam katakan padanya...
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya...
Embun pagi katakan padanya...
Biar ku dekap erat waktu dingin...
Yang membelenggunya...

Tahukah engkau wahai langit...
Ku ingin bertemu membelai wajahnya...
Ku pasang hiasan...
Angkasa yang terindah...
Hanya untuk dirinya...
Ternyata, Amel memutar MP3 di HP-nya. Memutar lagu—yang dibawakan oleh… siapa itu? Kerismbahdukun—yang bikin sedih. Lagu terus berlalu, Amel pun segera mengutarakan semua kegundahan dalam hatinya, selama perjalanan liburan ini,
“Ini liburan bareng keluarga pertama gue, setelah lima tahun yang lalu. Dan setelah Papa dan Mama pergi ninggalin gue, Cuma buat urusan karirnya! Hiks, gue juga lupa, gimana rasanya ngumpul bareng keluarga. Tadi, waktu baru nyampe, gue seneeeng banget! Nenek meluk gue! hiks, dan karena gue udah lupa rasa kebersamaan itu, gue sampe takut buat ketemu Namboru! Hiks, kayaknya, udah nggak ada lagi keluarga yang bisa gue jadikan sandaran,”
Lagu rindu ini kuciptakan...
Hanya untuk bidadari hati yang tercinta...
Walau hanya nada sederhana...
Izinkan ku ungkap segenap rasa,
Dan kerinduan...
Sumpah! Aditya udah benner-benner nggak tahan dan nggak tega ngelihatnya! Ia lalu bangun dari duduknya, menghampiri Amel, merebut HP-nya, dan langsung mematikan MP3 yang terus memutar lagu itu.
Diusapnya kepala Amel, didekapkan ke dadanya untuk beberapa saat, dihapuskan airmatanya, lalu ia berkata,
“Sabar, ya, kan masih ada gue di sini,”

***

Amel harus tegar. Tegar menghadapi liburan ini. Liburan keluarga yang asing banget buat ia jalani. Dan…
“Assalamulaikum,” sapa Namboru saat baru memasuki rumah. Padahal, Namboru mualaf lho! Tapi kesadarannya, lebih dari Aditya dan Muncip.
“Waalaikumsalam,” jawab Tante Nia pelan. Lusuh. Seprti takut.
“Waalaikumsalam, eh, Lusi kamu udah datang?” jawab Nenek kemudian. Nenek berusaha sebaik mungkin dengan Namboru. Dan datang hanya untuk menemani Tante Nia, agar tidak gugup dalam menghadapi kakak iparnya.
“Hanya dua orang rupanya penghuni rumah ini? Katanya kemarin banyak?” tanya Namboru dengan logat bataknya yang khas.
“Hmm… anak-anak sama Mas Iik lagi ke Rajapolah. Lagi beli makanan,” jawab Tante Nia yang berusaha dengan sekuat mungkin untuk tenang.
“Bah! Macam mana pula anak-anak itu? Sudah enak-enak di sini nikmati udara pegunungan, malah masih minta belanja juga!” ujar Namboru, menanggapi kalimat Tante Nia tadi.
“Yah, namanya juga anak-anak. Ayo Lus, Ibu anter ke kamar. Tidur sama Amel, ya?” tawar Nenek,
“Owh… si Amel juga ikut? Pakai jampe apa kamu Ni, bisa ngajak si Amel ke sini?” ujar Namboru asal. Tante Nia hanya tersenyum.
Sementara itu,