BAB III : MEREKA Go Go
Dini hari, mobil Xenia milik Om Iik sudah siap meluncur ke Tasikmalaya. Begitu juga dengan orang-orangnya. Seluruh penghuni rumah—kecuali Bik Yuyu dan Mang Asep—ikut serta dalam tour yang bertemakan, Jalin Silaturahim, Nikmati Suasana Outdoor yang Alami.
Semua sudah siap dengan jaketnya masing-masing. Karena dini hari, pastilah udara di luar sangat dingin. Belum lagi ditambah udara dari AC mobil. Amel fancy banget! Udah kayak mau window shopping aja! Pakai cardigan warna pink tua, plus HP Nokia terbaru dengan warna senada.
Setelah Aditya dan Muncip berhasil mengangkat semua barang masuk ke dalam mobil, barulah orang-orang dari para pemilik barang tersebut memasuki mobil.
Acara dadah-dadahan dengan Bik Yuyu dan Mang Asep, usai sudah. Kini, tinggallah mereka yang akan menggantungkan perjalanannya pada mobil Xenia yang dikendarai Om Iik.
***
Sampai di tol Cipularang.
Yank, ak lg d mobil nich! Kel Q, ngajak liburan brg. Ga sru amat kn, yank? Begitu isi SMS yang dikirim Amel kepada sang pacar. Kalau Aditya sampai tahu, bisa diturunkannya Amel dari mobil!
Nggak lama kemudian, datang SMS balasan. Ya ampun yank, koQ bs? Ya ud, biar ga bt, aQ temenin km lwt sms trus, yach?
Tx yach, yank. Km mank p’ngrtian bgt d sm aQ! Ga kyk abank Q! balas Amel lagi.
Owh. . si Adith, y? emank tuch orank. Ya ud, yank, aQ ngantuk nich, pngn bo2 lg. Miss U! Dari cara bicaranya, bisa dipastikan sang pacar adalah teman seangkatan Aditya!
Miss U too, Q syg kmuh! Begitu isi SMS terakhir.
“SMS-an.... terus!” sindir Aditya.
“Walau begitu, gue tetep nggak ngelanggar aturan, kan?” ujar Amel. Mau bagaimana lagi? Ucapan Amel barusan, memang yang paling benar! Jangan pura-pura lupa deh tuh, si Adit!
Tasikmalaya memang nggak bakal ketemu kalau dicari batang hidungnya. Tapi kalau dicari areanya, pasti ketemu! Namun, masih amat teramat jauh sekali dari tempat mereka berada sekarang!
“Dit, Riana bangun nih! Ajak ngomong deh!” ujar Tante Nia yang duduk di sebelah kursi kemudi, sambil memangku Riana.
“Santai Tante! Ada Muncip!” sambar Muncip PD dahsyat.
“Apaan sih, lu? Orang yang disuruh gue!” sinis Aditya.
“Eits, Dit, jangan suka emosian gitu, Cuma gara-gara dititipin dua orang adek sama bonyok lu! Kan, masih ada gue?” narsis Muncip lagi. “Riana mau apa?” ujar Muncip.
“Mau itu!” jawab Riana dengan polosnya, sambil menunjuk sebotol teh manis, yang terletak di kantong belakang jok mobil.
“Ow, ini, ya? Ya udah, minumnya sama Tante ya, anak pintar?” rayu Muncip sambil memberikan botol tadi.
Bukannya diminum sama Riana setelah tutup botolnya dibuka Tante Nia, yang ada, malah Riana langsung menyambar minyak kayu putih yang sedari tadi ada di tangan tantenya, dan menumpahkannya ke dalam teh manis! Dan yang terjadi?
Tante Nia malah membiarkannya, Aditya dan Amel sepertinya melihat, dan Muncip, ia tidak melihatnya sama sekali, karena terlalu sibuk dengan i-pod-nya!
“Kakak, ini buat Kakak!” pinta Riana kepada Muncip, sambil memberikan botol tersebut. goblok benner si Muncip! Makanya, jadi orang jangan sok baek! Begitu isi hati Aditya.
“Makasih, Riana! Kakak minum, ya?” ujar Muncip. Ke tiga orang yang telah mengetahui bahwa isi botol tersebut bukan lagi air teh manis yang murni, hanya diam saja dan tidak mencegah. Yang ada, mereka malah cekikikkan sendiri.
Dan.... satu... dua... ti... ga... huek! Tawa ke tiga orang tadi langsung meledak, saat Muncip baru mengetahui apa yang ia minum, dan menyemburkannya karena rasanya tidak enak.
“Kak Muncip... Kak Muncip... kalau belum pernah ngerasain segernya minum tebu pappermint, sekarang rasain dulu tuh, nggak enaknya teh manis pappermint!” ledek Amel.
“Makanya, Cip, jadi orang jangan sok baek dan sok perhatian! Udah gue bilang, ngurusin dua orang Adek tuh, nggak gampang!” ujar Aditya.
“Haah!” raung Muncip. Riana sang pelaku, malah tersenyum polos. Sesaat kemudian, Om Iik yang baru diceritakan kronologis kejadiannya oleh Tante Nia, langsung menyruh Riana untuk meminta maaf.
“Kakak, maafin aku, ya?” pinta Riana.
“Iya, sama-sama adikku yang manis....” ujar Muncip, dengan nada gregetan.
***
Dengan alasan Tante Nia yang sudah pegal memangku Riana, Amel yang kebelet pipis, dan Muncip yang ingin kumur-kumur, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di pombensin terdekat.
Mobil mereka masuk ke jalur peristirahatan di tol, dan masuk ke dalam pombensin yang dituju. Sepi, hanya ada beberapa mobil yang juga sama-sama singgah di pombensin tersebut. Awalnya mobil masuk melalui tempat peristirahatan yang mungkin dibangun oleh warga setempat—luas, hanya berisi beberapa pedagang makanan kecil, dan beberapa stand perusahaan otomotif yang berpromosi dengan cara bersedia untuk menservis onderdil kendaraan para pengendara yang sengaja lewat untuk beristirahat—yang terletak persis di sebelah pombensin, sehingga susah dibedakan yang mana yang pombensin asli, dan yang mana yang pombensin jadi-jadian.
Dibantu dengan Aditya, akhirnya Om Iik berhasil membawa mobilnya keluar dari pombensin jadi-jadian itu, dan terus ke pombensin yang asli. Setelah mendapat lahan parkir di pombensin yang asli untuk mobil mereka—tentunya mereka juga memilih yang letaknya strategis, semua penghuni mobil yang mungkin “dudukannya” sudah mulai panas, sekarang bisa menghirup udara kebebasan.
“Aduh... toilet...” keluh Amel, setelah berhasil keluar dari mobil.
“Aduilah, Musholla di mana, ya? Gue pengen kumur-kumur di krannya, nih!” keluh Muncip, setelah berhasil keluar dari mobil.
“Aduh, Mas, tolong gantian jagain si Riana dulu, ya?” keluh Tante Nia, setelah berhasil keluar dari mobil. Ya ampun! Tiga keluhan, dan satu tempat.
“Ayo Mel, ke toilet sama Tante,” ajak Tante Nia.
“Dit, temenin gue cari Musholla, yuk!” pinta Muncip.
“Nggak ah, lu ke toilet aja, kumur-kumur di situ. Emang nggak bisa?” jawab Aditya asal. Enak aja Muncip, orang lagi enak-enak nikmatin udara Cipularang di dini hari, malah disuruh anterin kumur-kumur!
“Ya elah Dit, toilet sekecil itu, mana ada wastafelnya, sih?” bela Muncip.
“Ya udah, kalo nggak ada, lu sabar aja menunggu sampe kita semua berniat untuk shalat subuh!” jelas Aditya. Muncip hanya bisa kesal.
Baru dua langkah terlihat Tante Nia dan Amel keluar dari toilet, ringtone HP Tante Nia langsung berbunyi. Mereka yang masih asyik “nongkrong”, membiarkan Tante Nia mencari tempat yang enak untuk mengangkat telfon.
***
Tertera tulisan, ‘Rumah di Tasik’ memanggil, di layar HP Tante Nia. itu artinya, ibunya—atau nenek dari Aditya dan Muncip—menelfon.
“Assalamualaikum, Ni. Udah sampai mana kamu?” sapa orang di sebrang.
“Waalaikumsalam, Bu. Nia sama yang lain lagi istirahat di Cipularang. Ada apa, Bu?”
“Ibu Cuma mau kasih tahu. Katanya, kakak iparmu si Lusi, juga mau datang ke Tasik.”
“Terus apa masalahnya? Malah bagus kan, anak-anak jadi bisa ketemu Namboru-nya?”
“Kamu kan tahu, Lusi paling nggak disukai sama anak-anak!”
“Iya juga ya, Bu?”
“Makanya, kamu jangan bilang dulu ke anak-anak, ya? Nanti, mereka malah nggak jadi mau ke sini,”
“Siip, lha, Bu!” begitu kalimat terakhir yang terucap, sebelum mengucapkan salam terakhir.
Fiuh! Kasihan Aditya sama Muncip. Liburan mereka yang sebelumnya diramalkan bakal indah, malah.... hi... hi... apa jadinya ya, kalau mereka—termasuk Amel—sampai menghadapi yang namanya Namboru Lusi?
Adzan subuh berkumandang. Tante Nia langsung menghampiri mereka semua, untuk melaksanakan shalat berjamaah. Dan.... keinginan Muncip untuk kumur-kumur pun, akhirnya tinggal selangkah lagi! He... he...
BAB IV : BAH! NAMBORU WAS COME!?
“Nenek... I miss U...” ucap Muncip, saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Nenek.
“Waalaikumsalam,” jawab Nenek.
“Assalamulaikum, Nek,” ujar Aditya, membetulkan.
“Waalaikumsalam, semua cucu Nenek!” balas Nenek. Bahagianya, bisa bersatu dengan keluarga tercinta, di saat liburan seperti ini. Amel terlihat haru, saat melihat seluruh keluarganya berseri gembira, dan saat Nenek memeluknya.
“Aduh... Amel udah gadis!” puji Nenek.
“Makasih, Nek,” balas Amel.
“Si cantik pasti capek! Istirahat dulu deh, semuanya,” pinta Nenek, sambil menyolek dagu Amel.
Rumah yang terletak di salah satu desa di kabupaten Ciamis itu, rata-rata sama seperti rumah di perkampungan Jakarta. Kecil-kecil namun berdinding tembok dan bergaya modern. Hanya suasananya saja yang berbeda. Kampung mereka terletak di kaki gunung. Di kampung tersebut juga rata-rata penduduknya memiliki kolam ikan dan beberapa petak sawah, dalam satu lahan!
Nah, di rumah Nenek ini hanya memiliki satu ruang tamu, tiga kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruang makan. Itu sih baru bagian rumahnya saja! belum bagian tanahnya! Kalau dilihat sampai ke belakang rumah, di sana ada dua kolam ikan, rumah kecil bagian dari rumah di depannya sebagai tempat tinggal dua orang pembantu Nenek, satu kamar mandi terbuka—atau kamar mandi yang ndeso banget gitu lha, tahu kan?—lalu dibawah, ada perkebunan dan saung—atau kalau orang Betawi bilang itu bale-bale. Luas dan ndeso, kan?
Dan kamar yang biasa di tempati oleh Tante Nia adalah kamar yang di samping kamar Nenek. Atau yang dekat kamar mandi. Sedangkan satu kamar lagi—yang dekat ruang tamu, bisa ditempati oleh siapa saja. dan kalau kapasitas kamar sudah tak lagi mencukupi, keluarga besar mereka biasanya harus rela meronda di luar kamar!
***
“Dit, lu tahu nggak?” tanya Muncip.
“Ya enggaklah, orang belum lu kasih tahu,” jawab Aditya.
“Makanya, sekarang gue kasih tahu,”
“Apaan?”
“TAPI, LU SIAP-SIAP BUAT JANTUNGAN, YE? NAMBORU LUSI, LU TAHU? YANG ORANG BATAK TULEN, BAWEL, CEREWET, SANGAR, BAKAL DATENG KE SINI!!!” histeris Muncip.
“WHAT HAPPEN?” balik Aditya, juga dengan histeris.
“KATANYA, DIA MAU DATENG KE SINI, SEN-DI-RI-AN! CUMA PENGEN KETEMU SAMA KELUARGA BESAR SUAMINYA, YANG DIA TAHU KALAU KITA SEMUA LAGI KUMPUL DI SINI! BESOK!!!” histeris Muncip kemudian, dengan lebih dahsyat!
“OMG! Jangan sampe si Amel tahu duluan, deh,” ujar Aditya.
Namun apadaya, mereka yang baru sampai pada jam tujuh pagi, dan sedang melaksanakan sarapan di pinggir kolam, tidak ada yang tahu kalau selama perbincangan tadi, Amel ada tepat di belakang mereka! Yang memisahkan hanyalah tembok antar ruang Tv dan kolam.
***
Kalau di puisi Aku, tertulis baris, Kalau sampai waktuku, ku mau tak seorang ‘kan merayu. Tapi kalau kalimat yang diucapkan Amel, akan terdengar serupa namun tak sama,
“Sampai kapan pun, gue nggak butuh rayuan dari lu!” ujarnya, sambil duduk di pinggir kolam, memegang HP Nokia-nya, mengenakan jaket abu-abu dan jeans tiga perempat. Satu lagi, sambil menatap sedih, dan mengeluarkan air mata.
“Gue nggak coba nge-rayu lu, buat ngikutin semua apa kata gue! gue Cuma pingin ngeredam sedih lu! Gue tahu liburan sama keluarga tuh nggak asyik menurut lu. Tapi please, coba buat sekali ini aja,” jelas Aditya.
“Iya, tapi liburan bareng anggota keluarga yang paling NGGAK BANGET!” bantah Amel.
“Namboru tuh emang nggak banget. Gue tahu lu pasti nggak bakal suka sama dia!” ujar Aditya berpendapat, yang langsung tahu duduk permasalahan Amel kali ini.
“Tapi gue punya alasan kenapa gue bisa nggak seneng banget sama dia. Terakhir gue ketemu dia itu, gue sampe nangis secara diem-diem, gara-gara dipojokin abis-abisan tentang satu hal sama dia!” ingat Amel.
“Gue tahu, gue ngerti, gue paham. Makanya, di percakapan gue sama Muncip tadi, gue bilang gue nggak mau kalau lu sampe tahu duluan. Karena gue nggak mau lu jadi shock. Gue mau lu nerima pelan-pelan, tapi lu nggak mau nerima cara gue itu, yang merupakan tanda kasih sayang gue ke elu, sebagai abang lu!” jelas Aditya. Percakapan serius, namun tidak dibarengi emosi.
Aditya menyingkir. Masih di pinggir kolam, namun ia pindah ke lain sisi yang berbeda dengan tempat Amel berada. Tiba-tiba Amel memainkan HP-nya. Praduga Aditya, Amel bakal mengirim SMS ke sang pacar. Ternyata tidak.
Bintang malam katakan padanya...
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya...
Embun pagi katakan padanya...
Biar ku dekap erat waktu dingin...
Yang membelenggunya...
Tahukah engkau wahai langit...
Ku ingin bertemu membelai wajahnya...
Ku pasang hiasan...
Angkasa yang terindah...
Hanya untuk dirinya...
Ternyata, Amel memutar MP3 di HP-nya. Memutar lagu—yang dibawakan oleh… siapa itu? Kerismbahdukun—yang bikin sedih. Lagu terus berlalu, Amel pun segera mengutarakan semua kegundahan dalam hatinya, selama perjalanan liburan ini,
“Ini liburan bareng keluarga pertama gue, setelah lima tahun yang lalu. Dan setelah Papa dan Mama pergi ninggalin gue, Cuma buat urusan karirnya! Hiks, gue juga lupa, gimana rasanya ngumpul bareng keluarga. Tadi, waktu baru nyampe, gue seneeeng banget! Nenek meluk gue! hiks, dan karena gue udah lupa rasa kebersamaan itu, gue sampe takut buat ketemu Namboru! Hiks, kayaknya, udah nggak ada lagi keluarga yang bisa gue jadikan sandaran,”
Lagu rindu ini kuciptakan...
Hanya untuk bidadari hati yang tercinta...
Walau hanya nada sederhana...
Izinkan ku ungkap segenap rasa,
Dan kerinduan...
Sumpah! Aditya udah benner-benner nggak tahan dan nggak tega ngelihatnya! Ia lalu bangun dari duduknya, menghampiri Amel, merebut HP-nya, dan langsung mematikan MP3 yang terus memutar lagu itu.
Diusapnya kepala Amel, didekapkan ke dadanya untuk beberapa saat, dihapuskan airmatanya, lalu ia berkata,
“Sabar, ya, kan masih ada gue di sini,”
***
Amel harus tegar. Tegar menghadapi liburan ini. Liburan keluarga yang asing banget buat ia jalani. Dan…
“Assalamulaikum,” sapa Namboru saat baru memasuki rumah. Padahal, Namboru mualaf lho! Tapi kesadarannya, lebih dari Aditya dan Muncip.
“Waalaikumsalam,” jawab Tante Nia pelan. Lusuh. Seprti takut.
“Waalaikumsalam, eh, Lusi kamu udah datang?” jawab Nenek kemudian. Nenek berusaha sebaik mungkin dengan Namboru. Dan datang hanya untuk menemani Tante Nia, agar tidak gugup dalam menghadapi kakak iparnya.
“Hanya dua orang rupanya penghuni rumah ini? Katanya kemarin banyak?” tanya Namboru dengan logat bataknya yang khas.
“Hmm… anak-anak sama Mas Iik lagi ke Rajapolah. Lagi beli makanan,” jawab Tante Nia yang berusaha dengan sekuat mungkin untuk tenang.
“Bah! Macam mana pula anak-anak itu? Sudah enak-enak di sini nikmati udara pegunungan, malah masih minta belanja juga!” ujar Namboru, menanggapi kalimat Tante Nia tadi.
“Yah, namanya juga anak-anak. Ayo Lus, Ibu anter ke kamar. Tidur sama Amel, ya?” tawar Nenek,
“Owh… si Amel juga ikut? Pakai jampe apa kamu Ni, bisa ngajak si Amel ke sini?” ujar Namboru asal. Tante Nia hanya tersenyum.
Sementara itu,