Pada tanggal 11, 12, dan 13 September 2009 kemarin, atau pada hari Jum’at, Sabtu dan Minggu, kami—siswa-siswi SMAN 25 Jakarta—mengadakan acara PEngkajian Ramadhan INtensif Tentang ISlam. Yang akrab disebut PERINTIS. Dan bertempat di Wisma Atlit Cilodong, Depok.
Peserta acara ini adalah siswa-siswi kelas X atau kelas 1 SMA. Dan anak-anak Rohis kelas 2 dan 3 juga alumninya sebagai panitia yang didampingi guru-guru. Saya pun termasuk dalam kepanitiaan. Panitia dibagi 2. Yang kelas 3, menjadi panitia, dan yang kelas 2 menjadi ketua kamar. Karena dari seratusan murid kelas 1, mereka akan dibagi menjadi 6 kamar/kelompok, yang tentunya dipisah antara ikhwan dan akhwat atau laki-laki dan perempuan.
Dan saya kebagian menjadi ketua kamar/kelompok 1 akhwat. Kelompok saya itu pun saya beri nama Ummu Kultsum—putri nabi Muhammad.
Hari pertama atau saat baru sampai di tempat, kami melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Baru setelah itu kami menuju kamar kami masing2. Dan diberi kesempatan untuk membersihkan diri selama kurang lebih 45 menit. Setelah itu kami pun menuju aula untuk pembukaan sembari menunggu adzan Maghrib atau waktu berbuka puasa.
Hingga malam tiba, seluruh peserta—kelas 1—diberi waktu istirahat atau tidur selama kurang lebih 4 jam. Saya pikir, anak Rohis-nya tidak ikut tidur. Karena, saat anak kelas 1 disuruh tidur, kami—panitia—malah disuruh berkumpul untuk rapat dengan guru-guru. Tapi tidak lama. Hanya sebentar dan kami disuruh kembali ke kamar untuk ikut beristirahat.
Dua kamar menjadi satu. Hanya dipisahkan oleh kamar mandi. Dan kamar/kelompok 2 yang memegang adalah Erly. Kebetulan saya dekat dengan Erly. Jadilah Erly dan saya terus bersama pada malam itu. Tadinya kami tidak ingin tidur. Jadilah saya membantu Erly untuk menyuruh anak-anaknya tidur. Setelah itu, kami jadi curcol (curhat colongan). Dan selama curcol, kami tidur di lantai kamar saya, dan tepat di bawah kipas angin.
Tak lama, guru yang tidur di kamar saya, datang. Padahal, saya dan Erly sudah hampir tertidur! Eh, dibangunin sama guru saya itu. Kata beliau, takut masuk angin kalau tidur di lantai. Apalagi saya, kurus! Hhe. Karena di kamar saya sudah ada guru, Erly meminta saya untuk tidur di kamarnya. Ya sudah, saya turuti.
Dan kami tidur di kasur yang dikhususkan untuk satu orang, berdua. Karena tadi sudah terlanjur tidur, kami langsung melanjutkan tidur kembali. Sebelumnya, kami pun menyetel alarm di HP saya. And ternyata, kita ketiduran! Karena jam di HP saya ternyata ngaco! Lalu, saya pun tidak berasa getaran, saat salah seorang panitia miscalled ke HP saya. Walhasil, kami pun telat untuk menjalankan shalat malam. Erly ketakutan setengah mampus. Saya juga, sih. Anak-anak kelas 1 pun tidak tahu kalau mereka kala itu telat datang ke acara.
Hari ke dua dan ke tiga, mulai dipenuhi cobaan. Pertama saat sedang materi berlangsung, saya melihat anak saya wajahnya pucat dan memegang minyak kayu putih. Saya Tanya kenapa? Katanya pusing. Fiuh! Untung Cuma pusing. Dan langsung saja saya suruh untuk tiduran di kamar.
Lalu saat outbond hendak dimulai. Anak saya pingsan! Saya tidak tahu menahu kalau dia sakit. Dan dia juga tidak bilang. Dia hanya bilang ke temannya sesaat sebelum pingsan. Kalau perutnya keram. Dan temannya itu pun bilang ke saya. Saat saya hendak melapor ke panitia, ternyata dia langsung pingsan! Aduh… kalau mendem rasa sakit, ya bilang, toh!
Lalu sesudah outbond. Saya tidak tahu apa asalnya, tahu-tahu satu anak saya sudah bersama seorang panitia dan dia mengeluh kalau kuku kakinya patah! Hah! Saya panic sekaligus stress! Untung saya tidak disalahkan.
Hari demi hari terus terasa berat di Cilodong. Dari mulai anak-anak kami yang sakit, sampai harus mengingatkan mereka kalau tidak boleh tidur/tiduran saat acara berlangsung! Lalu, mengingatkan kalau tidak boleh memakai jeans atau lagging. Menyuruhnya cepat keluar saat acara hampir dimulai, dan menertibkannya saat mereka rebut. Belum lagi menyuruhnya untuk segera tidur lalu membangunkannya di dini hari!
Capek nih mulut rasanya! Udah mana lagi puasa! Dan saat para peserta dikasih waktu beristirahat, panitia malah disuruh rapat! Capek
Yah… walau capek, tapi senang. Dan pengalaman yang sangat berharga sekali untuk menjaga anak-anak orang selama tiga hari. Ah…



Tidak ada komentar:
Posting Komentar