BERBAGI SESAMA DI MANA SAJA
OLEH : BUNGA RAMONA
Menemani Mama belanja bulanan di pasar swalayan, adalah kegemaran Dania. Apalagi, swalayan yang bisa dikunjungi mamanya adalah salah satu swalayan terbesar! Dari mulai barang-barang elektronik, baju-baju, mainan, perlengkapan sehari-hari, dan lain-lain, dijual di sana. Pokoknya lengkap! Dania bisa melihat semuanya di sana.
Mobil Papa terus melaju. Asyik, rutinitas belanja bulanan Mama terjadi juga. Dan sebentar lagi, mereka pun agar segera sampai di swalayan tersebut.
Di depan bangunan swalayan, terdapat gerbang yang lebar. Yang juga dihiasi dengan lampu-lampu taman. Di gerbang sebelah kiri tempat masuknya motor, sedangkan di gerbang sebelah kanan, tempat masuknya mobil. Dan… eh, Dania melihat sesuatu di tempat masuknya mobil itu.
Terdapat seorang anak kecil yang seumuran dan berjenis kelamin sama dengannya. Namun, si anak mengenakan pakaian yang sangat tidak layak. Berbeda sekali dengan yang Dania kenakan. Dengan muka kotor dan memelas, si anak menadahkan tangannya ke setiap mobil yang datang, sambil memegangi perutnya yang tinggal tulang rusuk.
Dania menjadi iba. Ia lalu teringat ucapan Bu Lastri, guru PPKN di sekolahnya. Beliau bilang kita sesame manusia harus saling tolong-menolong. Apalagi kepada yang membutuhkan. Dan anak tadi sangat membutuhkan pakaian yang layak, serta sedikit makanan untuk mengisi ruang kosong di sela tulang rusuknya. Sedikit? Yang penting ikhlas.
***
Papa langsung mengambil troli yang terletak di depan pintu masuk swalayan. Sedangkan Mama langsung masuk ke dalam swalayan, disusul dengan troli yang dibawa Papa. Dania hanya memasang wajah bingung, sambil berjalan mengikuti orangtuanya. Ia terus berpikir bagaimana caranya supaya bisa mengambil makanan dan pakainan untuk anak tadi. Yang jelas, ia harus bisa membawa orangtuanya ke kedua tempat tersebut. Karena Dania tidak berani pergi sendiri. Swalayan ini terlalu besar untuk dirinya yang kecil!
Lamunan Dania terbongkar saat mereka telah sampai di tujuan Mama yang pertama. Yaitu di tempat dijualnya sabun-sabun pembersih rumah tangga. Huft! Untung lamunan Dania tadi, tidak sampai membuatnya terpisah dari Mama dan Papa. Hanya menimbulkan kecurigaan dari Mama. Buat Dania sekarang, terpisah dari kedua orangtuanya-lah hal yang biasa. Daripada harus ketahuan bingung seperti ini.
“Ada apa Dania? Kamu sakit? Wajahmu bingung begitu. Kalau kamu sakit, kita pulang sekarang juga,” tanya Mama lembut. Dania langsung mendapat ide dari ucapan Mama tadi. Daripada diajak pulang, lebih baik…
“Iya, Ma, Dania sakit perut. Dania lapar. Kita ke tempat makanan yuk, Ma!” ujar Dania. Berbohong demi kebaikan kan, tidak apa-apa.
“Bilang dong kalau kamu lapar, kita ke tempat makanan dari tadi, deh,” ujar Mama kemudian. Papa langsung menyetujuinya. Troli Papa langsung berbelok, menuju ke tempat yang Dania mau.
***
Dania terus memasang muka memelas, agar Mama percaya kalau ia sedang sakit. Namun, sampai di tempat makanan, Dania langsung terlihat senang karena telah berhasil menjalankan misinya. Mama kembali curiga.
“Kamu udah sehat, nak? Wajahmu udah seger lagi,” ujar Mama. Dania langsung ketakutan. Untung Mama tidak berpanjang lebar lagi. Dan langsung mengambilkan makanan sehat untuk anaknya itu. Tiba-tiba, Dania mengambil satu bungkus makanan. Mama langsung menanyakannya.
“Itu buat apa Dania? Memang, makanan yang Mama ambil ini, belum cukup? Atau kamu nggak suka?” tanya Mama. O ow… Dania ketahuan. Ia langsung mencari akal lagi.
“Eng… ini buat makan di rumah, Ma. Kalau yang Mama ambilin itu kan, buat Dania makan sekarang. Abis, Dania suka kelaperan kalau lagi di rumah sendirian,” ujar Dania setengah gugup. Mama langsung percaya. Makanan sudah, tinggal mengambil pakain untuk anak itu saja. Gumam Dania dalam hati.
“Ma, Pa, sekarang kan musim hujan, kalau Dania berangkat sekolah pagi-pagi, Dania suka kedinginan. Beliin Dania jaket, ya?” pinta Dania. Lagi-lagi dengan muka memelas.
“Papa punya jaket di rumah. Daripada beli lagi, mending pakai jaket Papa aja. Uangnya jadi bisa ditabung,” usul Papa. Aduh!
“Papa, biarin aja Dania beli jaket lagi. Masak mau pakai jaket Papa. Tengsin dong Pa, kalau sampai dilihat sama temen-temennya,” bela Mama. Huh! Untung ada Mama yang selalu sayang sama Dania. Tapi, maafin Dania untuk yang kali ini ya, Ma. Dania terpaksa bohong ke Mama. Akhirnya Papa membelokkan trolinya lagi, menuju ke tempat pakaian.
***
Wauw! Jaket-jaket yang dijual sekarang di swalayan ini, bagus-bagus! Untung Dania sedang melaksanakan misi kebaikan. Jadi, ia bisa menahan nafsunya. Semoga jaket yang aku pilihin, disukai juga sama anak itu. Gumamnya dalam hati lagi. Tanpa usulan dari Mama, Dania langsung mengambil jaket yang sesuai dengan seleranya.
Jaket dengan warna ungu kesukaannya, dan dengan gambar kartun Minimouse kesukaannnya pula, langsung diambil Dania untuk diberikan ke anak tadi. Dania langsung menaruh jaket pilihannya di troli yang dikendalikan Papa. Sebelum Mama ikut campur lagi. Selesai semua. Tinggal menunggu Mama membeli barang-barang bulanannya, lalu, selesailah misi Dania!
Eits, Dania melupakan satu hal! Bagiamana cara ia memberikan kedua barang tersebut kepada anak itu? Sedangkan tidak ada yang tahu maksud baik Dania. Jadi, apa yang diharapkan dari Mama dan Papa, kalau mereka saja tidak tahu. Ingin rasanya Dania membongkar semua kebohongan tadi. Tapi, apa Mama dan Papa tidak akan marah besar jika telah mengetahuinya nanti? Dania harus mencari jalan lain. Sepertinya, ia lagi-lagi harus berbohong!
Troli Papa akhirnya sampai juga di kasir. Itu berarti, berakhir pula kegiatan belanja Mama bulan ini. Tapi, misi Dania masih belum berakhir. Ia masih harus berpikir keras untuk menyelesaikan misinya itu. Dania lalu memutuskan untuk berbuat nekat. Setelah petugas kasir mendaftar kedua barang tadi ke dalam komputernya, Dania langsung mengambilnya secara kilat, dan berlari secepat mungkin meninggalkan kedua orangtuanya. Mama langsung berteriak memanggil nama Dania.
Orang-orang heran dengan tingkah laku Dania. Begitu juga dengan orangtuanya. Untung Papa langsung member pengertian ke Mama. Kalau bisa jadi Dania mempunyai maksud tertentu yang tidak ingin orangtuanya tahu. Jadi, biarkan saja Dania bertingkah seperti itu.
Setelah beberapa saat Papa dan Mama menunggu Dania, akhirnya Dania kembali dengan tanpa membawa kedua barang yang ia ambil tadi! Mama heran dan ingin sekali menanyakannya. Namun, Papa member isyarat agar Mama diam saja. Orangtua pasti sudah tahu apa yang dilakukan anaknya. Apalagi kalau anaknya bertingkah aneh seperti itu. Paling nanti di rumah Dania akan bercerita sendiri.
Dan tanpa mengucapkan kata apapun, mereka langsung meninggalkan swalayan itu.



