Jumat, 26 Desember 2008

Grand Indonesia Shopping Town

Tahu mall yang satu ini? Namanya Grand Indonesia Shopping Town. Terletak nggak jauh dari jalan Kebon Kacang, dan MH. Thamrin.
Letaknya juga bersebelahan dengan JACC. Kayaknya sih, Grand Indonesia ini, mall baru! Abis, gue juga baru tahu sekarang. Apa udah lama, tapi guenya yang kuper? Hhe…
Gue pergi ke sana untuk yang pertama kali dengan abang gue. Naik motor. Pertama kali gue lihat bentuk luar bangunan mall ini, kayaknya, mall ini mewah banget! Lebih mewah dari TA! Bentuknya tapi, ya!
Pas mau parkir, gue pikir, ini mall, mall kagak laku! Hhe… sori! Nggak tahunya, banyak juga yang mau ngunjungin. Nggak Cuma pengunjung yang pakai mobil mewah doang kok, juga yang dating ke mall ini. Tapi, antrian motor saat abang gue mau memarkir motornya pun cukup terlihat.
Nggak tahu deh, itu mall emang laku beneran, apa Cuma karena gue pergi ke situnya, pas liburan natal dan tahun baru?
Sebenernya, gue dan abang gue, ke situ bukannya mau window shopping! Cuma mau ngincer diskon 30% yang lagi diadakan oleh Gramedia mall itu aja alasannya!
Waktu udah sampai di dalam, gue yang berprofesi sebagai pelajar merangkap penulis muda, langsung celangak-celinguk, kayak cecunguk! Hhe… menurut profesi gue, kalau lagi pergi-pergi, harus perhatiin sekitar! Yah, lumayan kan, buat nambah-nambahin pengetahuan tentang karakter orang!
Pas gue perhatiin, ternyata, yang datang tampang ber-uang semua! Ya… pastilah yang bertampang cina-cina, gitu! Ada juga bule. Orang pribumi-nya, juga ada, lha! Yang berjilbab gitu, juga ada! Gue salah satunya! Hhe…
Lalu, kebanyakan dari isi mall tersebut, adalah café ber-wifi! Sayang, gue nggak bawa laptop ke situ! Kalau bawa kan, udah kayak orang kaya gue!
Selain café ber-wifi, toko-toko-nya pun, toko-toko bermerk, yang kalau nggak gaul-gaul, pasti nggak tahu sebelumnya nama toko itu. Untung gue gaul! Hhe… ada toko Seibu, GAP, Gosh, dan masih banyak lagi…
Oya, waktu gue ke situ, kebetulan, lagi ada pertunjukkan Barbie, lho! Yang judulnya, The Diamond Castle. Dan yang main, kayaknya sih, orang bule asli! Yang didandanin sampai mirip dengan boneka Barbie.
Yah… pastilah pertunjukkan itu nggak banyak menyita perhatian gue dan abang gue. Yang penting sih, Go Gramed! Hhe…
Langsung aja, seusai dari Gramed dan mendapatkan sebuah mouse, kita langsung tertarik sama apa yang ada di lantai 3! Suasananya beda dari lantai-lantai sebelumnya. Timur Tengah, gitu! Kirain kita, tempat shalat, kali! Tapi…
Nggak tahunya, itu yang disebut dengan East Mall! Yang dari awal gue masuk, gue udah lihat namanya banyak banget di papan petunjuk!
Di bagian yang ter-setting Timur Tengah, terdapat tempat bermain anak-anak. Ada permainan mendayung, terus pemadam kebakaran, terus unta-unta-an, bom-bom car, sampai perahu yang ceritanya sedang terdampar di tengah lautan berombak ganas!
Setelah itu, kita terus mengitari lantai tiga. Sampai akhirnya, bertemu dengan tempat yang ter-setting Negeri Sakura! Isinya masih sama dengan tempat yang tadi. Masih permainan anak-anak juga! Lalu, kita pun naik ke lantai 4, yang sepertinya, masih kawasan East Mall.
Ternyata, di lantai 4 pun, masih tersetting Negeri Sakura. Tapi, yang ini isinya bukan permainan anak-anak lagi. Melainkan restaurant Jepang! Seperti Hoka-hoka Bento, Smoke Crab, Shusi, dan lain-lain. Terus jalan mengitari lantai 4, bertemu lah kita dengan tempat yang tersetting Eropa!
Pertama, bertemulah kita dengan settingan Perancis. Glamour, mewah! Lalu, ada juga settingan Negeri kincir angin! Dan yang paling unik, adalah settingan Inggris! Sampai ditaruh kereta segala! Terus, juga ditaruh lampu-lampu taman di sepanjang jalan.
Itulah, unik juga mall ini ternyata! Kalau datang langsung, pasti bisa lebih seru! Soalnya, di sini saya nggak ikut menjelaskan lebih detil, sudut demi sudut East Mall ini.
Tapi, mengapa tempat unik dan mengasyikkan untuk anak-anak itu, malah dibangun di sebuah mall yang pasti kalau untuk anak-anak dengan penghasilan orangtua pas-pasan, nggak bakal bisa datang ke sana?
Intinya, sekarang orang-orang menengah ke atas, lebih memanjakan orang-orang menengah ke atas pula! Kenapa nggak memanjakan orang-orang menengah ke bawah, atau orang-orang dengan penghasilan pas-pasan, atau orang-orang kurang beruntung?
Kan, pasti saya yakin dan percaya itu, bisa lebih bermanfaat dan memuaskan hati masing-masing?! Hahahaha… 

TTL 14 Besar Idola Cilik 2

IRSYAD
Bukit Tinggi, 26 Februari 1997
RAHMI
Banda Aceh, 1 Agustus 1996
ABNER
Modomang-Sulawesi Utara, 30 Mei 1996
GITA
Palembang, 11 Juni 1996
CAHYA
Boyolali, 20 Maret 1998
OLIN
Galela-Maluku, 4 Maret 1996
OBIET
Temanggung, 16 Juli 1998
OUREL (termuda)
Medan, 18 Juli 2000
OIK
Salatiga, 20 Januari 1998
BASTIAN
Bandung, 21 September 1999
PATTON
Makassar, 29 Oktober 1998
AGNI
Pekalongan, 26 Juni 1998
DEBO
Sukabumi, 31 Januari 1997
CAKKA
Tangerang, 18 Agustus 1998
(Sumber; Kompas 21 Des 2008)

FFI 2008

Kirain mau diadakan di mana, nggak tahunya, FFI kali ini mau diadakan di Bandung. Ya, FFI 2008 yang diselenggarakan pada 12 Desember di depan gedung Sate, Bandung.
Sebenernya, saya bukan pecinta film. Saya hanya mau mengulas saja liputan FFI yang sudah lalu itu. Apalagi, ada yang aneh di FFI tahun ini. Dan saya mengetahuinya pun dari berita yang saya tonton di Tv.
Jangan kalian pikir, saya menonton langsung FFI dari gedung Sate di Bandung! Saya mah, pasrah aja sama kecanggihan tekhnologi sekarang. Jadi, saya nontonnya lewat siaran SCTV yang langsung dari Bandung! Hhe…
FFI kali ini pun dimeriahkan oleh beberapa artis seperti Gita Gutawa, Tata ‘Dewi-dewi’, The Cangcuters, terus… siapa lagi, ya? Aduh, maaf, udah lupa.
Nggak penting. Yang lebih penting, pasti kalau kalian kemarin nonton siaran penghargaan FFI, kalian bakal bertanya-tanya. Nominasinya, film apaan, tuh? Kok, kayaknya gue nggak pernah tahu!
Yaps! Nggak tahunya, kebanyakan dari nominasi adalah film-film yang banyak belum bermunculan! Seperti, 3 doa 3 cinta—yang walau sekarang sudah diputar, namun pada saat FFI berlangsung, film itu belum diputar, lalu Fiksi, lalu juga ada Caludia/Jasmine—yang walau sudah diputar, namun film tersebut nyatanya tidak terlalu heboh di masyarakat!
Dan masih ada dua atau tiga film lagi yang belum tayang/belum dikenal masyarakat, atau sudah diputar namun tidak begitu heboh di masyarakat, yang menjadi nominasi di FFI kali ini.
Menurut pakar perfilman, yang gue tonton di berita sebelum gue tonton siaran FFI-nya, film-film yang menjadi nominasi adalah film-film yang bagus! Bukan film-film yang tenar! Dan belum tentu juga, film yang tenar itu isinya bagus!
Benar juga itu saudara-saudara! Masak, nominasinya mesti Tiren, atau film-film yang akhir-akhir ini bermunculan, yang mengandung banyak unsure misteri, dipadu dengan unsure percintaan, dan kadang-kadang, juga dimasukkan unsure “jorok” biar terkesan lucu?!

Minggu, 07 Desember 2008

Bab I-2 Lawan Mereka! gokilz!

Novel

LAWAN MEREKA!

Save Our Forrest

OLEH : LINTANG GHIFFARA




BAB I : SEPUPU SIMELEKETE

Rencana liburan bersama keluarganya, sebentar lagi akan Aditya dapatkan. Ia penasaran sekali, apa jawaban dari keluarganya, jika ia bilang kalau ia ingin liburan bersama keluarga. Kira-kira, mau diajak ke mana ya, Aditya oleh keluarga besarnya?

Aditya di Jakarta tinggal dengan tantenya yang bernama Tante Nia. adiknya pun tidak tanggung-tanggung. Aditya memiliki dua orang adik perempuan! Orangtuanya tinggal di luar pulau karena urusan pekerjaan. Jadilah adik dari mamanya itu, dititipi tiga keponakan yang lucu-lucu (ceilah, udah bangkotan aja masih dibilang lucu!).

Selain tinggal dengan Tante Nia beserta suaminya yang belum dikaruniai anak, mereka juga dibantu dengan satu orang sopir dan satu orang PRT. Ya, sepertinya itu saja makhluk-makhluk yang menempati rumah di kawasan elit ini. Tapi kok, kayak ada yang kurang, ya?

O iya! Muncip! Ya, Muncip, sepupunya Aditya! Ayahnya—kakak dari Tante Nia—sudah meninggal. Sedang ibunya, berada di Taiwan sebagai TKW. Jadi, walau sudah dua tahun menikah, Tante Nia dan Om Iik bisa punya EMPAT orang anak! Hebat, ya? He he

Sampai di rumah, Aditya pantang untuk membuka kedua kaos kakinya, kalau belum mendatangi kamar Muncip dan meminta usul! Aditya sungguh penasaran! Dan ia tidak mau kalau Muncip sampai mengusulkan untuk ikut berlibur saja dengan teman-temannya! PANTANG!

“Cip, ayo dong, jangan Cuma males-malesan aja bisanya! Bantuin gue cari ide!” ujar Aditya dengan lembutnya. Uuu...

“Hah? Cari ide? Lu mau nulis novel? Sejak kapan lu punya cita-cita buat jadi penulis?” jawab Muncip. Entahlah. Entah ia mengerti apa tidak dengan omongan Aditya tadi.

“Dasar Muncip simelekete!” ambek Aditya, dengan menggerakkan kedua tangannya ke atas ke bawah. Persis kayak cewek sedang ngambek! “Lu ngerti nggak sih, gue ngomong apa?” ujar Aditya kemudian, yang suaranya langsung nge-bass bak cowok lagi puber.

“Ya lagian, lu bilangnya bantuin cari ide. Yang gue tahu, ide tuh Cuma buat tema nulis novel!” jawab Muncip dengan cemprengnya.

“Muncip... Muncip, lu pikir dunia Cuma seluas kamarlu yang isinya tentang gitar and sepak bola doang apa?” omel Aditya.

“Ya udah dah, biar nggak kepanjangan, lu bilang aja apa maksud lu hari ini?” tanggap Muncip seenak badannya yang cungkring.

“Haah!” keluar lagi deh, suara nge-bass Aditya. “Oke, gue emang salah ngomong ke elu. Maksud dari ide yang gue bilang tadi itu, ide buat liburan... oon...” jelas Aditya sabar.

“Owh... lu nggak speak sih! Ya udah, sekarang gue mau lunch dulu. Abis itu, baru gue kasih tahu, apa ide gue yang gue pikirin selama gue lunch! Oke sepupu my man?” jelas Muncip sambil menirukan gaya salah seorang artis situasi komedi.

Aditya hanya sabar. Dan dengan rasa penaaran yang sangat dalam pula tentunya.

***

Gila tuh si Adit. Masak dia mau ngajak liburan keluarganya? Apa temen-temennya pada cupu? Sampe nggak ada yang punya ide buat liburan bareng? Ujar Muncip dalam hati. Hi hi hi, kalau begini, jadi inget puisinya WS Rendra. Yang judulnya Di Meja Makan. Ia makan nasi dan isi hati. Muncip makan nasi dan sakit hati. Hi hi.

Belum selesai Muncip dibikin sakit hati sama Aditya, eh, si Amel dateng! Amel adalah adiknya Aditya. Umurnya tepat setahun di bawah Aditya dan Muncip. Amel nyebelin! Banyak gaya. Anak gaul gitu deh, ceritanya. Lihat aja, masak jam lima lewat baru pulang! Pasti abis ngapel dulu sama pacarnya yang orang kaya.

“Halo Bro!” sapa Amel dengan tidak sopannya. Nggak tahu Muncip lagi makan apa, ya? Main nubruk aja dari belakang. Ntar kalau keselek gimana?

“Hah? Turun bero? Abis ngapain lu emangnya?” jawab Muncip dengan segala “keluguannya”.

“Haah. . nggak asik!” balas Amel. Sakit... ati! Biarlah. Yang penting sekarang cari ide buat liburan. Sebenernya, Muncip juga pengen banget liburan. Sama kayak Aditya gitu, liburan bareng keluarga. Tapi ke mana?

Nginep di hotel bintang lima? Hah, pasti nggak boleh sama Tante Nia. nggak ada gunanya! Jalan-jalan ke Ancol? Yah, kalau mau ngerasain suasana outdoor mah, jangan tanggung-tanggung! Langsung aja pergi ke gunung! Haya! Gunung. Rumah Nenek di Tasik! Pasti si Adit sama yang laen pada setuju. Tapi si Amel? Haah... kalau dia nggak mau mah, ya udah nggak apa-apa. malah bagus. Begitu isi otak dan hati Muncip saat ini. tinggal kita tunggu gimana reaksi yang lain.

***

Seperti ada pemgaian tugas mengatur rumah tangga bagi anak-anak kost, Muncip mengumpulkan Aditya, Amel, serta adiknya Aditya yang kecil, Riana. Memang baru terkumpul segitu orang di rumah ini. Tante Nia Om Iik belum pulang.

“Oke, seperti apa yang lu minta tadi, Dit, sekarang, gue mau ngasih keputusan terakhir. Terserah lu mau nerima apa nggak. Yang jelas, gue udah nyerah kalau lu masih nyuruh gue buat ngasih ide lain.” jelas Muncip sebagai pembukaan. Yang paling jelas sih, pembukaan ini diconteknya dari pidato Pak Lurah waktu 17-an. Muncip kan selalu jadi panitia!

“Ya udah apa?”

“Gue mutusin buat liburan di rumah Nenek di Tasik! Selain menjalin silaturahim sama keluarga, kita bisa nikmatin suasana outdoor yang alami! Gue yakin Tante sama Om setuju. Lu tahu kan, Om Iik demen banget sama suasana outdoor. Dan Tante Nia, dia selalu ngikut ke mana suaminya pergi. Jadi, Dit?” jelas Muncip kemudian. Ini yang disebut bagian isi dalam pidato.

“Gue setuju banget. Tapi, pertimbangan yang lain, pasti ada dong! Maksud gue, bokap nyokap gue perlu diajak nggak? Tante Nia pasti repot banget ngurusin kita,” usul Aditya.

“Alah! Ngapain sih? Bokap nyokap lu itu sibuk banget! Lebaran kodok kali kita baru bisa berangkat kalau mesti nungguin mereka! Emang siapa sih, yang mau diurusin lagi selain Riana. Kalau gue sama lu kan, Tante Nia udah percaya kita nggak bakal berbuat yang macem-macem. Kalau pun iya, kan ada Om Iik.” Jelas Muncip lagi dan lagi. Kayak judul lagu, he he.

“Eits, tunggu! Emang cewek di sini Cuma Riana, doang? Gue?” ujar Amel yang nggak cowok nggak cewek, bakal eneg banget ngelihat gayanya yang lebai!

“Eh, nyadar dong lu! Riana tuh umurnya baru tiga tahun! Sedangkan lu, udah tiga belas tahun! Apa perlu Tante Nia masih nyuapin lu? Sekarang aja lu, bilang mau diperhatiin. Kemaren-kemaren, jalan aja lu seenaknya sama cowok, tanpa meduliin Tante Nia yang sampe jantungan mikirin lu!” Aditya pun jadi emosi melihat tingkah adiknya.

“Eh, elu tuh yang mestinya nyadar! Jadi Abang nggak ada perhatiannya sedikit pun!” balas Amel.

“Udah, udah, jangan berantem! Sekarang gini, Mel. Betul apa yang dibilang abanglu tadi. Kalau pun lu masih butuh perhatiannya Tante Nia, yang jelas, nggak sepenuhnya, dong! Gue, Adit, Om Iik, masih ada tiga cowok yang mau jagain lu!” relai Muncip.

“Kalau lu masih nggak mau juga, lu tinggal sendirian di sini sama Bik Yuyu dan Mang Asep, dan lu nggak boleh ke mana-mana. Semua duitlu plus HP-lu bakal gue sita! Itu yang pertama. Tapi yang ke dua, kalau lu mau ikutin semua aturan main kita, lu bebas SMS-an selama di jalan. Gimana?” usul Aditya.

“Eh, enak aja lu ngatur-ngatur gue? emang lu siapa?” mulai lagi deh Amel.

“Gue abanglu! Lu nggak nge-hormatin gue, ya? Kalau gitu sekarang juga HP-lu gue sita!” ujar Adit, sambil merebut HP di tangan Amel dengan kasar. Nggak biasanya Adit kasar kayak gini. Dia itu sebenarnya cowok yang lembut sama cewek. Tapi kalau terpaksa, ya begini jadinya?

“E... iya, iya, iya, gue mau ikutin semua aturan main kalian.” nyerah juga akhirnya si Amel. Bagus lah.

“Ya udah Dit, sampe di sini dulu. Ntar kita omongin lagi sama Om sama Tante,” ujar Muncip. Nah, ini baru penutupnya!

BAB II : TANTE NIA YANG DEMEN FOTOGRAFI

Entahlah. Diterima atau tidak pendapat itu di sisi-nya Tante Nia. sudah jam sembilan malam, Tante dan Om belum pulang. Namun, kegundahan itu tak berlangsung lama. Ya, kira-kira dua detik berlalu, suara klakson dari mobil Om terdengar. Sontak Aditya dan Muncip langsun siap sedia di ruang tamu.

“Kalian belum tidur?” begitu kalimat pertama yang diucapkan Tante Nia, saat memasuki rumah. Bukannya Assalamualaikum, Tante!

“Waalaikumsalam,” jawab Aditya dan Muncip, yang melenceng jauh dari pertanyaan Tante Nia tadi. Sekaligus mengingatkan gitu!

“Huh! Iya anak-anak, Assalamualaikum!” ulang kalimat pertama Tante Nia saat memasuki rumah tadi.

“Nah, gitu dong. Waalaikumsalam, Tante,” jawab Aditya dan Muncip kembali.

“Ya udah, sekarang kenapa kalian pada belum tidur?” ulang Tante Nia.

“Hm... begini Tante, Muncip sama Adit mau minta pendapat Tante, tentang liburan sekolah kita. yang tadi kita udah rencanain buat liburan bareng keluarga. Tapi, kita nggak tahu Tante sama Om bisa apa nggak?” jelas Muncip.

“Emangnya, temen-temen kalian nggak pada mau diajak buat liburan bareng?” tanya Tante Nia. sesaat kemudian, Om Iik masuk ke dalam rumah.

“Ada apa ini?” ujarnya.

“Waalaikumsalam,” kejadian tadi pun berulang.

“Eh, iya, Assalamualaikum,”

“Waalaikumsalam, Om. Gini Om, Muncip sama Adit rencana mau liburan sekolah bareng keluarga. Om sama Tante bisa nggak?” jelas Muncip lagi.

“Emangnya, temen-temen kalian pada nggak mau diajak buat liburan bareng?” ujar Om Iik, yang kalimatnya sama persis dengan Tante Nia tadi.

“Kalau liburan bareng temen-temen sih, banyak yang rencanain! Tapi kali ini, Adit mau liburan bareng keluarga. Mau kan Om, Tante?” pinta Adit.

“Nggak bisa dipaksain juga, Dit. Anak sekolah pada libur, tapi para pekerja belum tentu. Bisa aja sih sebenernya. Kalau kita mau ambil cuti barang seminggu buat nemenin kalian,” jelas Om Iik.

“Nah, kan itu bisa, Om! Ayo dong, Om!” pinta Adit lagi.

“Kamu kayak anak kecil, aja! Emang si Amel mau kita ajak liburan bareng?” ujar Tante Nia.

“Yah, soal Amel mah, apa sih, yang nggak bisa diberesin sama kita?” ujar Muncip sombong.

“Terus kalian mau liburan ke mana rencananya?” tanya Tante Nia. ini dia, kalau Tante Nia sampai tahu mau ke mana mereka, nggak bakal ada alasan A-Z buat dia menolaknya. Hi... hi... biar Tante penasaran, mending Muncip nyuruh Tante buat mandi atau shalat dulu.

“Ada deh, Tante! Mending Tante sama Om, balik lagi ke sini, sekitar setengah jam lagi,” ujar Muncip bagaikan presenter kuis Milyoner di Tv.

***

“Nih, Dit, Cip, teh anget buat kalian,” ujar Tante Nia, yang sesuai perjanjian tadi, ia akan kembali lagi. Begitu juga Om Iik. Namun, Aditya dan Muncip kali ini sedang tidak butuh teh hangat. Mereka sekarang sedang butuh jawaban yang paling pasti dari Om dan Tantenya.

“Hm... Tante, langsung aja Muncip lanjutin ya, omongan kita tadi,” ujar Muncip permisi.

“Ya udah, ngomong aja,” he... he... ini dia! Siap-siap terkejut deh Tante Nia!

“Ehm, rencana Adit sama Muncip tadi, kita mau liburan ke rumah Nenek di Tasik. Gimana Tante?” ujar Muncip perlahan. Walau diucapkan secara perlahan, tetap saja Tante Nia tersedak mendengar ucapan Muncip barusan. Begitu juga Om Iik.

“Tasik? Kalian nggak salah?! Berarti, kita bisa naik gunung Galunggung, dan melihat kewahnya yang mewah itu?” ujar Tante Nia dengan girang. Saking girangnya, sampai-sampai muka Tante Nia berseri-seri tak karuan.

Great! Kalian hebat! Begitu dong, kalau mau nyari tempat liburan. Suasananya mesti yang outdoor! Alami!” ujar Om Iik yang juga ke-girang-an.

“Dan kebetulan banget tuh, Tante lagi mau ikutan lomba fotografi,” jelas Tante Nia. mereka semua yang mendengarnya, mungkin langsung berbicara dalam hati, fotografi lagi, fotografi lagi. “Temanya, kawah nun indah! Jadi, kita bisa datengin Galunggung, sambil ambil gambar kawahnya juga! Iya, kan?” ujar Tante Nia. yang lain hanya mengangguk pasrah.

“Kalau gitu, nanti Om dan Tante coba minta izin dulu. Doain, ya?” ujar Om Iik.

“Pastinya, Om!” kompak Aditya dan Muncip. Hah! Lega deh, mereka. Yang penting, Om dan Tante mau dulu, urusan yang lain, tinggal berdoa saja! semoga liburan di Tasik nanti, indah....

Sinopsis Novel Bertemakan Lingkungan

Sinopsis

LAWAN MEREKA!

SAVE OUR FORREST

OLEH : LINTANG GHIFFARA

Mempublikasikan pentingnya bahaya kerusakan lingkungan sejak dini, memang tidak mudah. Sama seperti salah seorang tokoh di sini, yang gemar berbuat seperti itu kepada keluarganya, sampai ia tidak disenangi hanya karena hal tersebut. Namun keajaiban datang. Salah seorang tokoh lain, mendapat indera keenam dengan bisa membaca pikiran orang lain.

Ia dan yang lain pun menjadi sadar sendiri, betapa pentingnya menjaga kerusakan lingkungan tersebut, akibat dari keajaiban yang datang padanya.

Bab I : Sepupu Simelekete

Liburan kali ini, Aditya dan Muncip merencanakan akan berlibur di Tasikmalaya. Atau di rumah Nenek. Dibuatnya “forum” persetujuan, dan ada satu orang yang tidak setuju. Amel, adik dari Aditya. Gayanya yang selalu fancy, dan sikapnya yang gaul banget itu, membuatnya tidak suka berlibur atau sekedar berkumpul bersama keluarga.

Ancaman demi ancaman Aditya berikan untuknya. Dan akhirnya, Amel mau mengikuti liburan ini.

Bab II : Tante Nia yang Demen Fotografi

Persetujuan dari Om dan Tante Aditya dan Muncip sangat diperlukan. Awalnya Om dan Tante mereka mencoba untuk menolak. Namun, saat disebutkan hendak liburan ke mana mereka, Om dan Tante langsung setuju. Yang dikarenakan Tante mereka itu—Tante Nia—senang sekali dengan fotografi.

Bab III : Mereka Go Go

Dini hari, mereka berangkat ke Tasikmalaya. Saat sedang beristirahat, Tante Nia menerima telfon dari ibunya—atau neneknya Aditya dan Muncip, yang mengabarkan bahwa tantenya anak-anak—Namboru Lusi—yang bawel, cerewet, dan sangar itu, akan berlibur pula di Tasik!

Nenek bilang, jangan beritahu siapa-siapa dulu. Karena kalau Aditya dan Muncip apalagi Amel mengetahuinya, mereka bisa-bisa memutuskan untuk balik lagi ke Jakarta. Tante Nia hanya menurut.

Bab IV : Bah! Namboru Was Come?!

Kabar tentang Namboru Lusi yang juga ikut liburan bersama mereka, terbongkar sudah. Amel juga langsung mengetahui kabar tersebut. Ia menjadi gundah dan jengkel. Sampai-sampai ia harus menangis! Karena ada Aditya yang selalu berada di samping adik-adiknya, Amel bisa meredam kegundahan itu.

Namboru datang. Semua menyambutnya. Amel menguatkan dirinya untuk bisa bertahan dengan Namboru.

Bab V : Namboru Itu Sebenarnya Benar!

Sehari penuh Namboru bersama mereka, semuanya sangat menjengkelkan! Hal-hal kecil yang dapat membuat kerusakan pada lingkungan, selalu ia serukan!

Aditya dan Muncip bosan. Tapi ada yang beda dari Amel. Ia merasa, bahwa apa yang diutarakan oleh Namboru selama ini, ada benarnya.

Bab VI : Lebih Baik Ku Begini

Aditya dan Muncip benar-benar nggak tahan! Tapi Amel, ia jadi akur dengan Namboru! Amel setuju sekali dengan apa yang Namboru pikirkan soal kerusakan lingkungan! Amel yang dipikirkan Muncip akan tidak betah juga, dan langsung mencari jalan keluarnya, malah terbalik. Amel yang diharapkan pemikiran liciknya untuk bisa lepas dari sesuatu, pupus sudah dari pikiran Aditya dan Muncip.

Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di Musholla. Jadi marbot jadi marbot, deh! Asal nggak kedapetan celotehan Namboru!

Bab VII : Namboru Begini, Tante Nia Juga?

Tujuan Tante Nia datang ke Tasik adalah, bisa pergi ke gunung Galunggung, dan mengambil foto di sana, untuk diikutsertakan dalam perlombaan. Rencananya, beliau ingin pergi hari ini. Tapi dibatalkan oleh Namboru!

Dengan alasan yang rasional, Namboru bisa mengendalikan pikiran Tante Nia untuk pergi ke danau Panjalu. Semua hanya menurut.

Sampai di sana, tiba-tiba Aditya dan Muncip prihatin melihat ada seorang anak yang membuang sampah sembarangan. Selanjutnya, keajaiban itu pun datang! Aditya bisa membaca pikiran orang lain! Dan karena hal itu, ia bisa menjadi dua kali lebih iba tentang kerusakan lingkungan, dari isi pikiran orang-orang di sana tentang hal tersebut!

Bab VIII : Saatnya Beraksi!

Aditya bahagia! Dengan bisa membaca pikiran orang lain, ia jadi bisa membaca pikiran Namboru. Yang isinya, hari ini Namboru akan pergi ke Gunung Galunggung, membalas Tante Nia yang kemarin sudah menemaninya ke danau.

Sampai di sana, lagi-lagi Aditya dan Muncip merasa prihatin akan kerusakan lingkungan yang akhir-akhir ini sering terjadi. Ditambah dengan tahunya Aditya isi dari pikiran orang-orang di sana, yang menyayangkan adanya kerusakan lingkungan. Namun, itu tidak terlalu bermasalah. Yang penting membantu Tante Nia untuk mendapatkan foto yang baik.

Bab IX : Ada Yang Mencurigakan

Ada kabar, bahwa perkebunan lobak milik warga setempat rusak oleh tangan manusia! Pasti ada penjahat yang dendam atau gila karena telah sembarangan merusak lingkungan. Namboru tentu amat teramat tidak terima!

Dan beliau segera mencari ide gila, untuk bisa mendapatkan para penjahat tersebut, dibantu dengan Amel.

Bab X : Pertempuran Tahun 2000 di Tasik

Ide gila dilakukan Namboru, demi mendapatkan para penjahat itu. Namun, apa yang terjadi? Gagal.

Bab XI : Kata Tante Nia, Lawan Mereka!

Namboru nggak bakal nyerah untuk mendapatkan para penjahat gila itu! Keesokannya, beliau mulai mencoba lagi. Aditya dan Muncip yang selama misi ini dijalankan tidak terlihat semangat, lalu dinasihati oleh Tante Nia.

Kata Tante Nia, lawan mereka yang coba merusak lingkungan kita! Merusak bumi, yang akan membawa pada kehancuran!

Dengan semangat tinggi, dibarengi dengan otak cerdas, akhirnya, mereka berhasil menagkap para penjahat tersebut....

Begitulah penjabaran dari bab-bab dalam novel ini. ini fiksi remaja. Tidak terlalu serius pasti. Agar para pembaca—yang diutamakan remaja—bisa mencerna betapa pentingnya amanat yang terkandung dalam cerita ini. tokoh-tokoh dalam cerita pun adalah remaja sendiri. Dan dari awal sampai akhir, coba sebutkan nanti, bagian mana yang tidak terdapat lelucon?!

Sabtu, 06 Desember 2008

Pengalaman yang Tak Pernah Terbayang Sebelumnya

hari kamis 4 Des 2008 kemarin, gue sama kakak kelas gue di ROHIS, kak Dhini, membagikan kupon kurban buat orang-orang nggak mampu, yang ada di pinggir rel daerah Bndungan Hilir. sumpah! gue baru pertama ke tempat kayak gitu! apalagi, di pinggir rel.
jadi, usai pulang sekolah, anak Rohis sama Osis, mengadakan rapat sampai jam empat terlebih dahulu. setelah itu, kak Dhini ngajakin gue buat ikut ke benhil, buat ngebagiin kupon kurban! sontak gue langsung mau. secara, gue demen banget kalau disuruh jalan ke tempat kayak begitu. dan itu semua, tanpa pemikiran gue, yang belum pernah datang ke tempat itu sama sekali. alias, gue main beraniin diri aja, tanpa tahu sikonnya sama sekali!
terus, dari sekolah kami naik angkot sampai tanah abang. dari tanah abang, dilanjutkan naik angkot yang ke Benhil. tapi nyatanya, kami salah naik angkot! kami malah naik yang ke karet. jadi, waktu angkotnya mau naik ke flyover, kita turun, terus jalan sebentar, lalu belok kiri, dan... di situlah mulai kerasa "hawa-hawa"!
nggak cuma dekat dengan rel ternyata! tapi juga dekat dengan kali, dan kawasan listrik yang bertegangan tinggi! ya ampun!
kami terus jalan menelusuri jalan yang hanya lurus saja. sampai akhirnya, teman dari kakak kelas gue itu, yang akan kami datangi itu, menjemput. ia bernama Yanti. dan seumuran dengan kakak kelas gue.
kami bertiga terus jalan, sampai akhirnya menemukan jembatan rel kereta api. dari situ kami belok ke kanan, dan... sampai pada "perumahan" yang dimaksud.
kalau dilihat dari Tv, ibanya nggak seberapa! tapi kalau dilihat benar-benar, wuih! dahsyat! kami jalan di atas tanggul, lalu turun melalui tangga kayu buatan tangan asala-asalan ke pemukiman itu. waktu disuruh sama kakak kelas gue, gue takut buat nurunin tangga itu! gue suruh aja kak Yanti buat turun duluan! padahal, dengan sikap gue itu, pasti meremehkan banget orang-orang di sekitar! atau, kayaknya gue tuh sok kaya banget! sampai nggak pernah ke tempat yang seperti itu!
setelah berhasil turun, kami langsung disambut sama Emil, warga situ juga yang merupakan kenalan kakak kelas gue juga. Emil dan keluarganya mempunyai warung. jadilah kakak kelas gue membelikan gue segelas minum. hhe, makasih, kak!
terdapat dua jalur rel di sana. pertama, kereta datang pada jalur yang dekat dengan tanggul. lumayan kerasa juga takutnya. tapi itu belum seberapa dibanding yang ke dua! yang ke dua ini, kereta melewati jalur yang tepat berada di sisi pemukiman! sontak gue takut banget dan langsung sembunyi di dalam warungnya Emil.
saat kereta datang, gue lihatin tuh kereta! ya ampun! yang kali ini benar-benar kerasa! bggak bisa ngebayangin deh, gimana rasanya tinggal di daerah situ. kereta yang berada di jalur yang tepat di sebelah pemukiman, saat melaju terasa banget! terasa bergetar! dan terasa banget deketnya! dan terasa banget jantungannya! gue hampir pingsan kalau gue nggak nguatin diri gue! juga hampi nangis!
nggak tahunya, selama kurang lebih lima belas menit gue dan kakak kelas gue di sana, kereta udah lewat selama tiga kali! bayangin! tiga kali! kalau sehari bisa berapa?