Sabtu, 06 Desember 2008

Pengalaman yang Tak Pernah Terbayang Sebelumnya

hari kamis 4 Des 2008 kemarin, gue sama kakak kelas gue di ROHIS, kak Dhini, membagikan kupon kurban buat orang-orang nggak mampu, yang ada di pinggir rel daerah Bndungan Hilir. sumpah! gue baru pertama ke tempat kayak gitu! apalagi, di pinggir rel.
jadi, usai pulang sekolah, anak Rohis sama Osis, mengadakan rapat sampai jam empat terlebih dahulu. setelah itu, kak Dhini ngajakin gue buat ikut ke benhil, buat ngebagiin kupon kurban! sontak gue langsung mau. secara, gue demen banget kalau disuruh jalan ke tempat kayak begitu. dan itu semua, tanpa pemikiran gue, yang belum pernah datang ke tempat itu sama sekali. alias, gue main beraniin diri aja, tanpa tahu sikonnya sama sekali!
terus, dari sekolah kami naik angkot sampai tanah abang. dari tanah abang, dilanjutkan naik angkot yang ke Benhil. tapi nyatanya, kami salah naik angkot! kami malah naik yang ke karet. jadi, waktu angkotnya mau naik ke flyover, kita turun, terus jalan sebentar, lalu belok kiri, dan... di situlah mulai kerasa "hawa-hawa"!
nggak cuma dekat dengan rel ternyata! tapi juga dekat dengan kali, dan kawasan listrik yang bertegangan tinggi! ya ampun!
kami terus jalan menelusuri jalan yang hanya lurus saja. sampai akhirnya, teman dari kakak kelas gue itu, yang akan kami datangi itu, menjemput. ia bernama Yanti. dan seumuran dengan kakak kelas gue.
kami bertiga terus jalan, sampai akhirnya menemukan jembatan rel kereta api. dari situ kami belok ke kanan, dan... sampai pada "perumahan" yang dimaksud.
kalau dilihat dari Tv, ibanya nggak seberapa! tapi kalau dilihat benar-benar, wuih! dahsyat! kami jalan di atas tanggul, lalu turun melalui tangga kayu buatan tangan asala-asalan ke pemukiman itu. waktu disuruh sama kakak kelas gue, gue takut buat nurunin tangga itu! gue suruh aja kak Yanti buat turun duluan! padahal, dengan sikap gue itu, pasti meremehkan banget orang-orang di sekitar! atau, kayaknya gue tuh sok kaya banget! sampai nggak pernah ke tempat yang seperti itu!
setelah berhasil turun, kami langsung disambut sama Emil, warga situ juga yang merupakan kenalan kakak kelas gue juga. Emil dan keluarganya mempunyai warung. jadilah kakak kelas gue membelikan gue segelas minum. hhe, makasih, kak!
terdapat dua jalur rel di sana. pertama, kereta datang pada jalur yang dekat dengan tanggul. lumayan kerasa juga takutnya. tapi itu belum seberapa dibanding yang ke dua! yang ke dua ini, kereta melewati jalur yang tepat berada di sisi pemukiman! sontak gue takut banget dan langsung sembunyi di dalam warungnya Emil.
saat kereta datang, gue lihatin tuh kereta! ya ampun! yang kali ini benar-benar kerasa! bggak bisa ngebayangin deh, gimana rasanya tinggal di daerah situ. kereta yang berada di jalur yang tepat di sebelah pemukiman, saat melaju terasa banget! terasa bergetar! dan terasa banget deketnya! dan terasa banget jantungannya! gue hampir pingsan kalau gue nggak nguatin diri gue! juga hampi nangis!
nggak tahunya, selama kurang lebih lima belas menit gue dan kakak kelas gue di sana, kereta udah lewat selama tiga kali! bayangin! tiga kali! kalau sehari bisa berapa?

Tidak ada komentar: